Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui

Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui

Oleh: Qonitatillah, MSc.

Suara-suara mendengung bak lebah itu menumbuhkan suasana syahdu dan khusyuk. Lantunan kalam Ilahi yang meluncur dari lisan-lisan shalih itu bak mantera penguat jiwa. Muraja’ah hafalan surat-surat dalam Al-Qur’an serta talaqqi madahpenuh dengan semangat dan optimisme yang tinggi. Pertemuan
pekanan ini ibarat ruh bagi jiwa, bak air untuk kehidupan.

Majelis pekanan yang lazim dikenal sebagai halaqah, tak bisa dipungkiri adalah nadi bagi sebuah harakah Islamiyah. Di dalamnya, para kader dakwah berinteraksi secara intim dan intens di bawah bimbingan seorang Murabbi. Pertemuan-pertemuan pekanan semacam ini haruslah dinamis dan produktif agar harakah Islamiyah dapat terus menggulirkan amal-amal dakwah demi kejayaan Islam. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa tak selalu halaqah ini berjalan mulus. Ada kalanya rutinitas pekanan ini didera kelesuan. Karena bagaimanapun pribadi-pribadi di dalamnya adalah manusia, bukan kumpulan para malaikat, yang
memiliki iman yang fluktuatif.

Mengapa sebuah halaqah tak lagi nyaman didatangi?

Pertama, disorientasi tujuan.

Motivasi orang mengikuti kajian rutin seperti halaqah sangat beragam. Ada yang karena ingin mendalami ilmu agama. Ada yang tertarik oleh ajakan kawan. Ada yang bersungguh-sungguh ingin menegakkan agama Allah. Pun tak sedikit yang semangat berhalaqah agar naik jenjang keanggotaan dalam jamaah.
Nah, ketika dirasa peluang naik tingkat sangat kecil, bukan tidak mungkin semangat yang sebelumnya menyala-nyala bisa langsung padam. Disorientasi tujuan ini berkaitan erat dengan ruhiyah seseorang sehingga ketika ada yang mengalami hal ini, maka pasokan ruhiyahnya harus ditingkatkan. Bisikan-bisikan hawa nafsu harus ditepis agar keikhlasan tetap terjaga. Komitmen bergabung dalam jamaah dakwah harus dikuatkan kembali.

Kedua, pelaksanaan halaqah yang membosankan.

Bagaimanapun, mengelola halaqah ada seninya. Meskipun kurikulum sudah ada, silabus sudah lengkap dan tujuan masing-masing materi sudah jelas, tetap saja diperlukan strategi agar halaqah berjalan dinamis dan penuh kesan. Halaqah yang melibatkan semua komponen dan bergerak menuju arah yang sama tentulah halaqah yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Oleh karenanya setiap individu di dalam halaqah memiliki peranan yang sangat penting demi mewujudkan halaqah yang dirindui.

Ketiga, hubungan Murabbi dengan mutarabbi.

Murabbi sebagai pemimpin dan pengendali halaqah memegang peranan yang paling penting. Sosoknya haruslah mampu diterima semua anggota kelompok. Tidak ada penolakan terhadap dirinya. Imam Hasan Al Banna mengibaratkan figur ini sebagai syaikh dalam hal kepakaran ilmu, orang tua dalam hal kasih
sayang, guru dalam hal pengajaran, kakak dalam hal teladan dan pemimpin untuk urusan ketaatan.

Pernah ada seorang mutarabbi yang menyampaikan kepada Murabbinya, “Ustadz, saya usul dalam halaqah kita ketika adzan Isya’ berkumandang marilah kita segera shalat berjamaah sebagaimana ketika kita shalat Maghrib.” Tak dinyana, jawaban Sang Murabbi begini.”Akhi, saya ketika halaqah dengan para doktor-doktor syariah biasa saja gak shalat Isya’ jamaah waktu halaqah. Shalatnya nanti di rumah saja biar waktu halaqah nggak terlalu lama. Saya rasa, yang perlu diperbaiki itu komitmen Antum. Antum suka datang telat, waktu halaqah tidur, kurang ihtiram, gak setor hafalan….”

Menjadi pemimpin, tak boleh alergi kritik sebagaimana menjadi mutarabbi pun tak boleh alergi nasihat dan teguran. Ketika jawaban tersebut disampaikan, maka si Al akh pun balik membalas, “Ustadz, saya kan usul. Usul itu bisa diterima atau ditolak. Kalo diterima, Alhamdulillah kalo nggak ya nggak apa-apa. Jangan malah membeberkan aib-aib saya…”

Ketika hubungan Murabbi-Mutarabbi seperti ini –saling menyerang- pastilah halaqah bukan lagi momen yang dirindukan. Ia akan menjadi waktu yang tidak diharapkan, atau dijalani dengan terpaksa. Dihadiri tanpa semangat. Oleh karenanya harus ada hubungan yang mesra antara Murabbi dengan mutarabbi-
nya. Jika hubungan ini sudah tercipta, niscaya halaqah akan menjadi momen yang dinanti-nanti.

Keempat, melemahnya militansi.

Bisa jadi, masa-masa awal mengikuti halaqah adalah momen-momen yang tak terlupakan. Berkobar-kobarnya semangat dan keinginan meninggikan agama Allah. Setelah itu akan dirasakan kestabilan dan keadaan yang biasa-biasa saja. Kesibukan dunia, rutinitas kerja, tuntutan-tuntutan di luar dakwah dan kompleksitas dari ketiga faktor di atas akan melemahkan militansi. Pada kondisi seperti ini, halaqah bisa berubah menjadi sekedar rutinitas yang menjemukan. Hanya akan menjadi majelis ‘setor muka’. Jika ini yang terjadi, maka wajarlah jika kelak lambat laun halaqah tak akan lagi dirindui. Oleh karenanya,
bangkitlah! Semangat itu tak dicari, tapi ditumbuhkan. Kemudian dipupuk dan dijaga dari hama dan virus yang akan melemahkannya. Militansi tak kenal musim. Ia harus dijaga senantiasa hidup dan menjadi api perjuangan.

Wahai Saudaraku, mari tumbuhkan kerinduan akan hari itu. Hari pertemuan kita dengan saudara yang diikat karena Allah. Hari yang di dalamnya penuh keberkahan dan doa para malaikat. Satu hari dalam setiap minggu yang kita dedikasikan untuk menghasilkan amal-amal dakwah dalam bingkai harakah
Islamiyah…

http://www.dakwatuna.com/2011/09/14363/ketika-halaqah-tak-lagi-dirindui/

Fiqih Da'wah: Makna Tadarruj

Oleh: Ust. Musyafa Ahmad Rachim, Lc

Pada suatu hari, saat mengajar di sebuah kelas, sampailah pelajaran Fiqih Da’wah pada istilah tadarruj.

Saya tanyakan kepada mereka: “Apa makna tadarruj?” Jawaban mereka berbeda, namun substansinya sama.

Istilahnya ikhtilaful ‘ibarat likhtilafil I’tibarat (perbedaan bahasa ungkapan karena perbedaan sudut pandang). Istilah lainnya adalah ikhtilaf tanawwu’ la ikhtilaf tadhad (keragaman, bukan kontradiktif).

Sebagian mahasiswa mengatakan bahwa tadarruj bermakna: bertahap.Sebagian yang lain mengatakan: sedikit demi sedikit. Yang lainnya lagi mengatakan: gradual. Dan ada juga yang mengatakan: langkah demi langkah.

Lalu saya tanyakan kepada mereka: “manakah dari makna-makna tadi yang lebih memberi gambaran secara operasional?” Masing-masing pemberi jawaban mencoba menggambarkan jawabannya secara operasional.

“Bertahap” maksudnya adalah kalau kita hendak menyelesaikan suatu perjalanan panjang, maka kita akan membagi perjalanan panjang tersebut dalam beberapa tahapan, dan untuk mencapai tujuan akhir dari perjalanan, kita harus melewati semua tahapan yang ada. Pada setiap tahapan tersebut mungkin kita rehat, makan, shalat dan sebagainya, istilahnya adalah tazawwud (menambah perbekalan) agar mampu melanjutkan perjalanan pada tahapan berikutnya. Kendaraan kita pun perlu mendapatkan perlakukan yang sama.

“Bagus” kata saya.

“Sedikit demi sedikit” ibaratnya seperti makan sepiring nasi. Tentunya tidak kita telan sekaligus, tetapi, kita makan sesuap demi sesuap, kita kunyah dengan baik suapan itu, baru kita menelannya. Ambil lagi suapan ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya. Begini penjelasan dari yang lainnya.

“Boleh juga” kata saya. “Suka makan ya?” komentar saya berikutnya. Yang dikomentari senyum-senyum saja.

“gradual” itu istilah Inggris, maksudnya adalah menyelesaikan sesuatu grade demi grade, langkah demi langkah, tahap demi tahap, selanjutnya permisalannya sama dengan penjelasan saudara sebelumnya.

“oke” kata saya.

“Jadi, kata tadarruj paling tidak menggambarkan dua hal sekaligus, yaitu:

1. Gambaran dari ‘tahapan’ atau ‘sedikit demi sedikit’ atau ‘gradual’ atau ‘langkah demi langkah’ di satu sisi, dan

2. Suasana jalan yang menanjak dari bawah ke atas sebagaimana tanjakan sebuah tangga yang terdiri dari beberapa anak tangga”.

“Perlu juga kita ketahui, ada bermacam-macam tangga yang pernah kita temui; ada tangga sebuah bangunan yang antara anak tangga satu ke anak tangga dua menggunakan ukuran standard, yaitu 15 cm, sehingga siapa pun yang menaiki tangga standard ini akan merasakan kenyamanan. Namun ada juga yang tidak standard, mungkin bisa 25 sampai 30 centimeter, sehingga untuk menaikinya kita perlu mengangkat kaki tinggi-tinggi, sehingga membuat kita cepat lelah dan kecapekan”.

“Ada juga yang dalam membuat lebar anak tangganya standard, sehingga satu anak tangga cukup dengan satu ayunan langkah kaki, namun ada juga yang dalam membuat lebar anak tangga tidak standard, sehingga untuk  menyelesaikan satu anak tangga diperlukan dua langkah”. Demikian penjelasan saya lebih lanjut.

Kerja-kerja dakwah itu mirip dengan menaiki tangga, sehingga sangat tepat kalau ada istilah tadarruj ini.Namun, paling tidak ada dua hal yang perlu dijelaskan di sini, yaitu:

1. Tadarruj dalam dakwah bukanlah tadarruj yang bersifat fisik. Ia adalah sesuatu yang bersifat ma’nawi atau non fisik. Oleh karena itu, ia tidak bersifat kasat mata yang semua orang dengan mudah dapat mengukur dan menilainya. Untuk membuat dan mengukurnya diperlukan sudut pandang (nazhrah) yang
akurat dari orang-orang yang berpengalaman (khabir). Dan kalau hal ini dilakukan melalui ijtihad jama’i akan semakin baik.

2. Bisa dipastikan bahwa bahasa ‘target’ pada setiap darajah pastilah berbeda. Sekedar contoh; kalau tadarruj yang kita maksud terdiri dari lima darajah, dan pada darajah kelima – misalnya – adalah: ‘tercapainya pembentukan 5 kelas untuk setiap tingkatan pendidikan SLTA’, bisa dipastikan bahwa pada darajah (anak tangga 1) tentulah ‘target’-nya tidaklah demikian. Dan sudah tentu juga bahasa khithab (wacana) pada darajah 1 pastilah tidak sama dengan darajah 2, 3, 4 dan 5.

Dua hal ini perlu kita pahami dengan baik, sebab, sangat mungkin terjadi perbedaan pada keduanya;

1. Sangat mungkin berbeda dalam memandang (nazhrah) darajah-darajah ini. Istilahnya, terdapat wijhat nazhar (lebih dari satu sudut pandang) dalam masalah ini dari sisi:

a. Apa target-target yang harus dibunyikan dalam setiap darajah?
b. Berapa lama kita harus berada pada setiap darajah?
c. Bolehkah terjadi ‘lompatan’ dalam darajah-darajah ini, dalam arti, mungkin atau tidak dua darajah kita lampaui sekaligus?
d. Dan sisi-sisi lainnya.

Jika hal ini terjadi, untuk menyelesaikannya, bisa dengan cara: فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيْرًا (tanyakan kepada ahlinya), atau keputusan dari sebuah syura yang mempergunakan pendekatan ijtihad jama’i atau gabungan dari keduanya sekaligus.

2. Sering sekali, terutama dari almutahammisin (yang terlalu bersemangat) menuntut agar para aktivis dakwah mendendangkan kalimat yang sudah ditetapkan sebagai target jauh, padahal posisi dakwah baru berada di darajah1, padahal mestinya aktivis dakwah menggunakan prinsip: ‘think globally act  locally’, dalam arti, dalam berfikir bolehlah berfikir besar dan global, namun, saat melakukan aksi, hendaklah seorang aktivis bersikap realistis (waqi’i) dan lokal di mana para aktivis berada, agar ‘tidak mimpi di siang bolong’.

Wallahu a’lam

Tadabur Surat At-Takatsur

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

 

 

 

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

102.1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu ,


حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

102.2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.


كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

102.3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),


ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

102.4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.


كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

102.5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,


لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

102.6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,


ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

102.7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin .


ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

102.8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).


(QS. At Takaatsur: 1-8)
Surah At-Takaatsur termasuk dalam kategori surah Makkiyah. Artinya, ia diturunkan ketika Rasulullah saw
berada di kota Mekah. Pada saat itu, bangsa Arab tengah dimabuk harta. Setiap orang berlomba-lomba

mengumpulkan dan memupuk harta sebanyak-banyaknya, bahkan tak jarang saling adu pertunjukan
harta. Menurut Syeikh An-Naisaburi, surah ini diturunkan Allah swt ketika kaum Quraisy Mekah saling
membanggakan harta yang mereka miliki. Tepatnya, ketika keturunan keluarga Abdul Manaf bersaing
dengan keturunan keluarga Saham. Kedua keluarga itu dikenal sebagai golongan kaya yang merajai
masyarakat kafir Quraisy saat itu. Hanya saja, harta yang mereka miliki hanya untuk kesombongan dan
keangkuhan.

Saat ini, kita menyaksikan fenomena yang kurang lebih sama. Bahkan dengan skala yang lebih luas. Bila
sebelumnya penyakit itu hanya menjangkiti masyarakat kafir di kota Mekah, kini merasuki hampir semua
umat Islam di berbagai belahan dunia. Lihatlah, bagaimana para penguasa di negeri-negeri muslim hidup
bermegah-megah saat rakyatnya kelaparan. Lihatlah, saat jutaan bangsa ini belum mendapat tempat
tinggal yang layak, sebagian lainnya justru membangun rumah megah, memiliki apartemen mewah,
memborong vila-vila di Puncak dan seterusnya. Padahal, asset itu tidak menjadi keperluan hidupnya.

Lihatlah pula pada daftar negara-negara terkorup di dunia yang dikeluarkan oleh lembaga Transparancy
International dimana sebagian besar adalah negara-negara berpenduduk muslim. Sampai saat ini,
Indonesia termasuk dalam daftar Sepuluh Besar negara-negara terkorup di dunia, bersama-sama dengan
Bangladesh, Burma, Haiti, Chad, dan Turkmenistan. Naudzubillah.

Allah swt berfirman,

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.

Kata “alhakum” memiliki kesamaan makna dengan kata “syagalakum”. Kata ini telah diserap menjadi
bahasa Indonesia, masygul yang berarti sibuk. Mengapa kalian disibukkan dengan mengejar harta
sehingga melupakan ketaatan kepada Allah swt? Ibn Katsir mengatakan, diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim
dari Zayid bin Aslam dari bapaknya yang berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Alhakumut takatsur,
dari ketaatan, hatta zurtumul maqabir, sampai maut datang menjemputmu” Diriwayatkan oleh Imam
Muslim dari Abu Hurairah dimana dia berkata, telah bersabda Rasulullah saw “seorang hamba biasa
berkata, inilah hartaku, inilah hartaku. Sesungguhnya, harta bagi seseorang itu hanya pada tiga hal. Apa
yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu menjadi usang, apa yang ia sedekahkan, itulah yang
kekal. Selain itu semua, pasti akan berlalu dan ia tinggalkan buat orang lain.” Diriwayatkan pula dari Imam
Ahmad dari Matruf dari bapaknya berkata, aku datang kepada Rasulullah saw, dan beliau bersabda,
Alhakumut takatsur, anak cucu Adam biasa mengklaim, ini hartaku, ini hartaku, tidaklah sesuatu menjadi
hartamu, kecuali apa yang kamu makan lalu habis, apa yang kamu pakai lalu menjadi usang dan apa yang
kamu sedekahkan, itulah yang kekal.”

Sementara kata “At-Takaatsur” (bermegah-megah) memiliki kesamaan akar kata dengan kata “katsir”
yang berarti “banyak.” Bila kita belajar bahasa Arab, umumnya diajarkan untuk mengucapkan, “syukran
katsir” (terima kasih banyak). Atau, jazakumullahu khairan katsir (semoga Allah memberimu kebaikan yang
lebih banyak). Banyak harta pun tidak akan kita membawanya hingga ke liang lahat. Hal ini diingatkan
oleh Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik berkata, telah
bersabda Rasulullah saw, “Akan menyertai seorang mayit tiga hal, dua kembali dan hanya satu yang
tinggal bersamanya; keluarganya, hartanya dan amalnya. Niscaya akan kembali keluarga dan hartanya,
hanya amalnya yang menyertainya.”

Bermegah-megahan telah menjadi ciri masyarakat Arab saat itu. Sehingga Allah swt ingatkan dengan
firman-Nya.

sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Kata maqabir adalah bentuk plural dari kata qabr yang berarti kuburan. Di dalam kitab suci al- Qur’an
hanya ada sekali penyebutan kata maqabir ini. Sehingga, para ulama mengatakan, ziarah kubur
merupakan obat hati di kala kita sedang alpa atau lengah dengan kematian. Nabi saw bersabda, “Aku
pernah melarang kalian ziarah kubur. Maka (sekarang) ziarah kuburlah. Karena yang demikian itu
membuat kalian zuhud di dunia, dan selalu ingat akhirat.”(HR Ibn Majah). Dalam riwayat Imam Muslim
disebutkan, “Maka sesungguhnya (ziarah kubur itu) mengingatkan kalian tentang kematian.”Dari
penjabaran ini, tak heran bila kemudian terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama hukum ziarah
kubur, terutama bagi kaum wanita. Perbedaan pendapat tersebut dapat dirangkum berikut ini:

Pertama, sebagian ulama mengatakan ziarah kubur dikhususkan bagi kaum pria saja. Hal ini mengingat
kaum pria tidak mudah tersulut emosinya saat mengunjungi makam orang-orang yang disayanginya.

Lain halnya kaum wanita, mereka boleh jadi akan menangis saat melihat pusara ibu, kakak, adik atau
anaknya sendiri. Menangis sebagai ungkapan emosi tentu tak ada yang melarang. Tetapi menangis di
depan kuburan dapat mempengaruhi nilai keimanan seseorang. Karena, boleh jadi, ia akan meraung-
raung dan meratapi kepergian sanak familinya serta melupakan bahwa semua kita milik Allah, dan hanya
kepada-Nya kita akan kembali.

Kedua, sebagian mengatakan hukumnya makruh. Pendapat ini mendasari pada ungkapan hadits yang
bersifat umum, di mana Rasulullah saw tidak memilah anjurannya untuk ziarah kubur. Yaitu bagi kaum pria
dan wanita. Bukankah fungsi ziarah kubur adalah mengingatkan kematian, dan kematian pasti terjadi juga
pada kaum wanita juga. Karena itu, menurut pendapat ini, ziarah kubur bagi wanita hendaklah dilakukan
dari tempat yang agak jauh. Bila ia berbentuk pemakaman umum, kaum wanita bisa melakukannya dari
balik gerbang kuburan itu sendiri.

Tentang bentuk kuburan, kita memang patut prihatin dengan umat ini. Lihatlah, berbagai bentuk kuburan
yang ada di Indonesia di mana sebagian besar tak memenuhi standar syariat Islam. Ada kuburan
yang dibangun dengan sangat wah, berkeramik, dibuatkan rumah, diletakkan topi baja (terutama pada
taman makam pahlawan) dan bahkan dijadikan mushalla. Allah melaknat orang-orang Yahudi, sabda
baginda Nabi saw, karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat. Ditambah
pula, ziarah kubur yang dilakukan dengan sangat keliru. Banyak di antara umat Islam yang mendatangi
kuburan, membawa air di dalam kendi, meletakkannya selama sekian waktu, membawanya pulang dan
meminumnya seraya mengharapkan keberkahan dari air itu. Naudzubillah.

Allah swt kemudian berfirman,

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), () dan janganlah begitu, kelak
kamu akan mengetahui.

Dua ayat di atas menegaskan kepada kaum kafir bahwa perbuatan mereka itu (menimbun harta), pasti
akan mereka lihat akibatnya. Allah swt sampai mengulang dua kali peringatan-Nya dalam surah ini. Para
mufassir mengatakan, jika suatu peringatan Allah (wa’id) diulang, maka hal itu menunjukkan penegasan
yang amat dahsyat.

Lalu, Allah swt berfirman,

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, () niscaya kamu benar-benar
akan melihat neraka Jahiim, () dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul
yaqin,

Tiga ayat ini bercerita lebih jauh tentang kepastian akan kematian yang menutup seluruh rangkaian nikmat

dunia. Allah swt menyebutkan dengan kata, “Kalla” yang berarti “sekali-kali kalian akan melihatnya”, suatu
penegasan yang telah diulang di dua ayat sebelumnya. Dengan kata lain, kaum kafir Quraisy waktu itu
enggan sekali menyadari bahwa kematian pasti menutup seluruh rangkaian dunia yang mereka kejar.

Oleh sebab itu, sebagian ulama menafsirkan kata “yaqin” dalam ayat ini berarti kematian. Jadi, terjemahan
yang paling tepat harusnya berbunyi, Janganlah begitu, jika kamu mengetahuinya saat kematian telah
datang. Untuk itulah, kita mendapati ayat Allah lainnya yang menyebutkan kata yaqin yang berarti
kematian. Allah swt berfirman,

Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu kematian yang pasti terjadi. (QS:Al-Waqiah:95).

Kemudian, Allah swt menegaskan sekali lagi dengan sumpah-Nya pada ayat di atas. Dalam kaidah
bahasa Arab, huruf lam adalah salah satu huruf sumpah apabila diikuti dengan kata kerja aktif. Pada ayat
ini, Allah bersumpah kepada kaum kafir bahwa mereka semua pasti akan melihat neraka Jahim. Suatu
neraka yang diperuntukkan bagi mereka yang mengingkari keimanan kepada Allah swt.

Dalam suatu hadits diceritakan bahwa pada saat manusia melintasi neraka, sebagian ada yang
melintasinya dengan sangat cepat, secepat kilat menyambar. Sebagian lain secepat angin bertiup,
sebagian lain laksana orang yang sedang berlari, berjalan bahkan ada yang merangkak. Mereka semua
akan melihat neraka Jahim. Neraka yang di dalamnya terhimpun para pendusta agama Allah swt. Allah
swt berfirman,

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah- megahkan di
dunia itu).

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam al-Qurthubi merujuk pada satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah. Sahabat Nabi saw itu berkata bahwa pada suatu hari Rasulullah saw keluar rumah, kemudian
beliau menjumpai Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw bertanya, “Apa yang membuat kalian keluar dari
rumah kalian pada jam seperti ini?” Keduanya menjawab, “Rasa lapar, ya Rasulullah.” Rasulullah saw
berkata, “Demi Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Rasa lapar juga membuat aku keluar
seperti kalian. Berdirilah. Maka keduanya pun berdiri. Mereka kemudian mendatangi rumah seseorang
dari kaum Anshar. Hanya saja, pemilik rumah tak ada di tempat. Istrinya kemudian berkata, “Marhaban wa
Ahlan”. Rasulullah saw lalu bertanya, “di mana si fulan ini?” “Ia sedang mengambil air bersih untuk kami,
ya Rasulullah”.

Tak lama kemudian, laki-laki Anshar itu datang. Ia memandangi Rasulullah dan dua sahabatnya seraya
berkata, “Alhamdulillah, tak ada seorang pun tamu yang lebih mulia bagiku pada hari ini. Ia kemudian
permisi sebentar. Rupanya, laki-laki itu datang dengan membawa setangkai buah kurma. “Makanlah dari
buah-buah ini.” Ia kemudian mengambil pisau. Rasulullah saw berkata, “Tak usahlah kau menyembelih
domba perahanmu itu.” Ia malah menyembelihnya dan memasaknya kemudian menghidangkannya pada
Rasulullah saw.

Setelah menikmati hidangan itu, Rasulullah saw bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah,
yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kalian akan ditanya tentang kenikmatan hari ini, pada hari kiamat
kelak. Kalian keluar dari rumah dalam keadaan lapar, kemudian kalian tak kembali sampai menjumpai
kenikmatan ini.” Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan, “Demi Allah, yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya.
Di antara nikmat Allah yang akan dimintai pertanggungannya pada hari kiamat adalah tempat berteduh
yang sejuk, kurma (muda) yang baik dan air yang dingin.” Kabarnya, laki-laki Anshar yang dikunjungi
Rasulullah saw dan dua sahabatnya itu adalah Abu Haitsan bin Taihan. Menurut al-Qurtubi, Abu Haitsan
adalah kuniyah dari seseorang yang bernama asli Malik bin Taihan.

Menyikapi ayat di atas, dan kisah dalam hadits barusan, para ulama kemudian berbeda pendapat
tentang nikmat-nikmat yang akan kita pertanggungjawabkan di hari akhir kelak. Perbedaan pendapat itu
terangkum dalam keterangan berikut ini.

Pertama, nikmat sehat dan waktu luang. Demikian dikatakan oleh Sa’id bin Zubair. Dasarnya adalah
hadits Rasulullah saw, “Ada dua nikmat dari berbagai nikmat Allah yang orang seringkali tertipu; nikmat
sehat dan waktu luang.”

Kedua, nikmat pandangan dan pendengaran. Allah swt berfirman, Dan janganlah kamu mengikuti apa
yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS: Al-Isra’: 36)

Ketiga: kenikmatan makanan dan minuman, demikian dikatakan oleh Jabir bin Abdullah al-Anshari.

Keempat: perut yang kenyang, minuman yang menyegarkan, tempat tinggal yang sejuk, tidur yang
lelap dan kesempurnaan penciptaan. Demikian dikatakan oleh imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya.
Demikianlah kira-kira nikmat-nikmat dunia yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah swt
kelak. Tentu saja, semua terpulang pada kita, apakah kita pandai mensyukuri nikmat atau sebaliknya.
Jangan sampai, kita hanya sibuk menumpuk-numpuk harta dan tak pernah mau mendermakannya pada
jalan kebaikan. Wallahua’lam bis showab.

Sumber: Taujih pekanan DPD PKS Kota Bks

Retrospeksi: Sanlat ala (Alm) KH Rahmat Abdullah

Ramadhan menjelang. Seperti yang sudah-sudah, bakal banyak anak sekolah dan kuliah liburan. Dan seperti biasanya juga, para aktivis Partai Da’wah ini akan giat melakukan pesantren kilat, mengisi Ramadhan.

Sebagai penyemangat dan mengambil pelajaran, berikut ini sebuah artikel daur ulang mengenai sepak terjang KH Rahmat Abdullah, yang kerap dijuluki Syaikhut-tarbiyah, dalam mengisi Ramadhan dengan sanlat.

===

KH Rahmat Abdullah, “Tempat Curhat Santri Kilat”

Nama Rahmat Abdullah identik dengan halaqah dan daurah. Bila Ramadhan tiba dan pesantren kilat (sanlat) marak dimana-mana, Ustadz Rahmat seolah tak punya waktu luang untuk kegiatan lain. Jangan heran bila pria ramah ini diberi gelar ‘PhD’. “Bukan singkatan dari Philosophy of Doctor, tapi Pakar Halaqah dan Daurah,” candanya.

Keakraban dengan sanlat dimulai sejak tahun 1980. Rahmat yang waktu itu sudah aktif mengisi ta’lim mahasiswa, didatangi beberapa anak SMA yang ingin nyantri selama waktu liburan. Rahmat bersedia. Selama ta’lim, ternyata semangatnya tak kalah dengan para mahasiswa. “Mereka cukup militan, sesuai jiwa remajanya.”

Pengalaman pertama begitu menggoda, selanjutnya Rahmat sering ‘melirik’ anak-anak SMA sebagai sasaran da’wahnya. Kebetulan, banyak orang tua yang meminta. Mereka tak segan-segan menyulap rumahnya menjadi tempat ta’lim, menyediakan transportasi, juga konsumsi. Ini berulang pada kesempatan liburan sekolah berikutnya, sampai akhirnya anak-anak SMA itu menjelma jadi kader da’wah yang tangguh. “Sekarang sudah banyak yang bergelar doktor dan menjadi ulama,” akunya.

Selama pesantren kilat berlangsung, tokoh gerakan Tarbiyah ini banyak memberi materi yang sifatnya menantang. Misalnya kisah-kisah heroik kaum Muslimin, peradaban Islam, atau tentang ancaman musuh-musuh Islam. Dengan begitu akan tumbuh komitmen terhadap agamanya serta terbangun memori yang benar tentang Islam, tidak melulu gambaran hebat dunia Barat yang selama ini banyak terekam. “Anak-anak kami ajak melihat persoalan diri dan ummatnya, bukan cuma diri dan temannya.”

Rahmat tidak sekadar bertindak sebagai guru mengaji, tapi juga menjadi ‘bapaknya anak-anak’ yang harus siap menerima curahan hati (curhat). Kadang terlontar pengaduan yang tak terduga. Misalnya pengakuan jujur seorang anak yang pernah melakukan hubungan seks dengan pacarnya, pecandu narkoba, atau mengadukan ayahnya yang korupsi. “Curhat semacam itu tak bisa dilakukan kepada orang tuanya yang sibuk,” ujar ayah tujuh anak ini.

Khusus pesantren kilat di bulan Ramadhan, waktunya bisa cukup panjang. Supaya tidak menjemukan, Rahmat mengembangkan sistem pengajaran outbound yang variatif. Santri tidak hanya diajak diskusi tentang keislaman, tapi juga bergembira dalam acara olah raga, naik gunung, kemah, dan berbagai macam lomba. “Ternyata pesantren tidak hanya identik dengan kitab kuning yang terkesan kuno,” begitu kata anak-anak.

Kalangan eksekutif dan pegawai juga tertarik. Dan liburan Sabtu-Ahad merupakan saat yang tepat. Istri atau suami dan anak-anak ikut serta, lantas menyewa vila sebagai tempat ta’limnya. Beberapa keluarga ini hidup dalam sebuah komunitas yang penuh keakraban, dan karenanya suasana itu senantiasa dirindukan. Bagi kalangan menengah ke bawah, hidup di villa merupakan saat-saat menyenangkan seperti halnya rekreasi. Cuma, tidak menjadi wisatawan, tetapi santri. Mau ikut?· (pam)

[www.hidayatullah.com]

===

Nah, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari sanlat ala Almarhum tersebut, antara lain:

  • Target da’wah ditujukan pula kepada generasi muda. Da’wah perlu diperkenalkan kepada santri sedini mungkin, agar kelak menjadi kader da’wah yang tangguh.
  • Materi sanlat yang sifatnya menantang. Materi yang menantang menumbuhkan memori yang benar dari santri tentang Islam.
  • Sanlat bukan sekadar sarana mentransfer ilmu, namun juga sarana curhat anak-anak didik/santri.
  • Sistem pengajaran yang variatif. Pengajaran yang tidak hanya menyentuh aspek kognitif, namun juga afektif, dan psikomotorik.
  • Selain kepada remaja, tentu sanlat dapat pula diadakan bagi kalangan eksekutif dan pegawai.

Ayo, semangat! Kita tiru semangat guru kita, saudara kita, tetangga kita tersebut! Bikin sanlat Ramadhan!

 

KENDALA TAUBAT – Taushiyah Jelang Ramadhan

Oleh H. Ahmad Mudzoffar Jufri

Salah satu bentuk persiapan terbaik dalam rangka penyambutan istimewa bagi kehadiran bulan suci Ramadhan yang segera tiba, adalah dengan melakukan pembersihan hati dan penyucian jiwa (thath-hirul qalb wa tazkiyatun-nafs). Dan tobat merupakan salah satu wasilah (sarana) terbaik untuk tujuan itu. Karena mengapa hati perlu dibersihkan, dan jiwa harus disucikan, adalah karena hati dan jiwa itu kotor dan penuh noda. Dan yang mengotorinya adalah dosa-dosa (QS. Al-Muthaffifin: 14). Sedangkan cara pembersihan hati dari noda-noda dosa, dan jalan penyucian jiwa dari kotoran-kotoran maksiat, adalah melalui tobat.

Dalam sebuah hadits: “Jika seorang hamba melakukan suatu dosa, maka satu noktah (noda) hitampun langsung menempel di hatinya. Jika ia segera sadar, tobat dan beristighfar, maka hatinyapun menjadi bersih kembali. Adapun apabila ia malah menambah dengan dosa-dosa lain, maka akan bertambah pulalah noktah-noktah hitam itu, sampai (jika tetap tidak tobat) benar-benar menutupi seluruh hatinya…” ( HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan ain-lain).

Oleh karena itu perintah, seruan dan anjuran untuk bertobat ini, tersebar di banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan bertobatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung dan berjaya” (QS. An-Nuur: 31). Di dalam ayat lain: “Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kalian kepada Allah dengan cara taubatan nashuha (tobat yang benar-benar murni dan tulus)…” (QS. At-Tahriim: 8).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali” (HR. Al-Bukhari). Dalam riwayat lain: “Wahai umat manusia, bertobatlah kepada Allah. Sungguh aku bertobat kepada Allah dalam sehari seratus kali” (HR. Muslim).

Tentu saja masih banyak lagi ayat dan hadits yang memerintahkan dan menganjurkan kita untuk bertobat, juga yang menjelaskan tentang beragamnya fadhilah dan keutamaan syariah tobat ini. Namun yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana cara bertobat? Apa itu taubatan nashuha? Bagaimana tobat dan istighfar yang disamping menghapuskan dosa, menyucikan jiwa dan membersihkan hati, juga sekaligus benar-benar efektif untuk menutup jalan bagi terulangnya dosa-dosa itu lagi?

Karena tidak sedikit orang yang mengeluhkan kondisi diri dan hati mereka, serta menanyakan dan mempertanyakan, mengapa dosa-dosa masih saja selalu terulang lagi dan lagi? Padahal mereka merasa telah melakukan tobat darinya dan telah beristighfar sampai ratusan atau bahkan ribuan kali?.

Yang perlu diperhatikan dan diingat disini bahwa, hal terpenting dalam pelaksanaan tobat dan istighfar itu, adalah sikap hati yang benar-benar jujur dan sungguh-sungguh dalam melakukan taubatan nashuha. Dimana secara totalitas kembali kepada Allah Ta’ala dengan upaya sepenuhnya menjalankan syarat-syarat dan konsekuensi tobat.

Nah, umumnya faktor penyebab tidak atau kurang efektifnya tobat sebagai penutup pintu terulangnya dosa-dosa, adalah karena kurangnya kesungguhan dan sikap totalitas hati ini dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi dari syarat2 tobat yang telah disebutkan oleh para ulama. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa, syarat tobat itu ada tiga: menyesali dosa yang telah diperbuat, meninggalkannya, dan berazam (bertekad) tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Adapun jika dosa dan kesalahan itu berhubungan dengan pelanggaran terhadap hak sesama, maka ada satu lagi syarat tambahan, syarat keempat, yakni: menyelesaikan urusan dengan pihak yang haknya dilanggar itu. Namun disini kita hanya akan fokus pada tiga syarat pertama. Karena itulah inti dan esensi dari penunaian tobat.

Selanjutnya, mungkin saja seseorang yang bertobat telah merasa memenuhi ketiga syarat utama tersebut.  Dan untuk membuktikan tobatnya, iapun telah memperbanyak istighfar, shalat, puasa, bacaan atau bahkan hafalan Al-Qur’an dan amal-amal saleh lainnya. Namun yang “aneh” mengapa semua itu seakan-akan tidak cukup mempan dan tidak efektif? Karena tidak lama berselang, ternyata dosa-dosa yang sama serasa begitu mudahnya kembali dan terulang lagi dan lagi?

Memang bukan merupakan syarat sahnya taubatan nashuha, bahwa dosa yang telah dilakukan tobat darinya itu harus dijamin tidak akan pernah terulang lagi. Demikian pula bukanlah itu maksud dari syarat ketiga diatas. Sehingga tetap saja ada kemungkinan terulangnya dosa tertentu suatu saat, meskipun sebenarnya sang pelaku telah pernah bertobat dengan taubatan nashuha. Dan hal itupun tidak membatalkan tobat yang telah dilakukan. Juga tidak selalu mengindikasikan bahwa tobatnya dulu itu bukan taubatan nashuha.

Jadi sekali lagi, meskipun seseorang telah melakukan tobat yang sungguh-sungguh sesuai dengan syarat-syaratnya, tetap tidak tertutup kemungkinan bagi terulangnya dosa yang sama sewaktu-waktu. Hanya saja sifatnya tetap sebagai pengecualian, sehingga kejadiannyapun juga jarang.

Namun yang kita bicarakan bukanlah tentang kondisi pengecualian ini. Melainkan seputar kondisi terulangnya dosa-dosa setelah dilakukan tobat, yang sifat dan terjadinya bisa dikatakan agak fenomenal, karena memang dialami oleh banyak pihak. Yakni – seperti yang digambarkan dimuka –  tentang tobat yang dilakukan dengan berbagai sarana pendukung dan pembuktiannya, tapi dirasa tidak begitu efektif untuk menghentikan tindak maksiat dan prilaku dosa. Ada apa gerangan? Apa yang salah atau kurang? Padahal ketiga syarat itu rasanya telah terpenuhi semuanya?

Pertanyaan-pertanyaan barusan ini bagus. Karena upaya menjawabnya insya-allah akan menyingkap tabir “misteri”. Kaidahnya bahwa, tobat semestinya menciptakan perubahan signifikan dalam diri dan kehidupan seorang mukmin atau mukminah, melalui penghentian dosa dan maksiat. Sehingga ketika hal itu tidak terjadi, maka hampir bisa dipastikan bahwa, jelas “ada apa-apa” dengan tobat yang dilakukan. Dan meskipun benar bahwa, syarat-syarat tobat dirasa telah terpenuhi, namun jelas ada juga fakta benar lain. Yakni bahwa, hampir pasti masih ada yang salah dan yang kurang dalam pemenuhan masing-masing syarat tersebut. Dan kesalahan atau kekurangan itulah yang memang merupakan kendala utama tobat pada umumnya. Sehingga, karenanya, tobat terasa hambar, karena tidak dirasakan benar-benar merubah secara signifikan, atau serasa tidak “menggigit” dalam mencegah dan menghentikan maksiat dan dosa. Istighfar tidak henti dilantunkan, namun maksiat dan dosa juga tetap berlasung terus, hampir tanpa tercegah atau terhentikan oleh istighfar-istighfar itu (?!).

Ya. Sekali lagi apa yang salah dan yang kurang dari pemenuhan syarat tobat tersebut? Yang salah atau yang kurang adalah tingkat kesungguhan dan kejujuran serta kadar totalitas dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi setiap syarat. Benar, Setiap syarat dari syarat-syarat tobat itu memiliki tuntutan dan konsekuensi, yang mesti dipenuhi untuk menjadikan tobat benar-benar sebagai taubatan nashuha, yang pasti akan langsung terasa pengaruh besarnya dalam penghentian maksiat dan dosa, serta perubahan signifikannya dalam diri dan prilaku yang bersangkutan.

Tuntutan dan konsekuensi dari syarat pertama yang berupa penyesalan atas dosa yang telah diperbuat, adalah bahwa penyesalan itu harus benar-benar terjadi dan muncul dari kesadaran keimanan berupa rasa takut dan malu kepada Allah. Bukan hanya karena takut akan akibat buruknya di dunia saja misalnya, atau hanya disebabkan oleh rasa malu kepada masyarakat semata. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya, adalah bahwa rasa penyesalan itu haruslah minimal setara dengan tingkat dan kadar dosa, atau bahkan lebih tinggi lagi, asalkan tidak sampai berlebihan. Ini yang umumnya kurang tersadari dengan baik, sehingga akibatnya kurang bisa terpenuhi secara memadai. Misalnya seseorang yang berdosa dengan dosa besar, namun penyesalan yang mendasari upaya tobatnya hanya berlevel untuk dosa kecil saja. Sehingga logis jika tidak atau kurang efektif pengaruh dan hasil tobatnya untuk menghentikan dosa besar. Karena memang kurang atau tidak selevel. Ibaratnya seperti orang yang memiliki tanggungan hutang, yang ia akui dan sanggupi untuk membayarnya. Namun ternyata pengakuan dan kesanggupan pengembalian itu tetap tidak diterima oleh pihak pemberi hutang, dan sebaliknya justru membuatnya marah besar! Ya, bagaimana tidak marah? Lha wong yang diakui oleh yang bersangkutan hanya 1 juta saja misalnya, padahal sebenarnya hutangnya mencapai 100 juta!

Sebagai tambahan gambaran tentang bagaimana seharusnya sikap dan rasa takut serta penyesalan seorang mukmin dan mukminah terhadap dosa, mari cermati dan renungkan ungkapan atsar sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dimana beliau berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya seperti orang yang sedang duduk di bawah kaki bukit dan khawatir kalau-kalau bukit itu akan runtuh menimpanya. Adapun orang yang fajir (pendurhaka) maka dia melihat dosa-dosanya hanya seolah-olah seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya lalu dia usir dengan cara begini.” Abu Syihab berkata, “Maksudnya adalah dengan sekedar menggerakkan tangan di atas hidungnya.” … (lihat Shahih Al-Bukhari)

Adapun tentang syarat kedua, yakni bahwa seorang yang tobat harus meninggalkan dosa yang telah atau sedang diperbuat, maka tuntutannya adalah harus bersemangat kuat dan bertekad bulat untuk benar-benar meninggalkan dosa dan maksiat itu. Jadi harus ada semangat kuat dan tekad bulat. Tidak cukup dengan sekadar keinginan begitu saja, apalagi jika hanya sebatas lintasan pikiran. Jadi ketika seseorang beristighfar dalam rangka tobat dari suatu dosa misalnya, sangat penting jika itu dilakukan sambil bermuhasabah dan bertanya pada diri sendiri misalnya: sudah penuh dan bulatkah tekadku untuk meninggalkan dosa dan maksiat itu? Karena meskipun seseorang telah banyak beristighfar, tapi jika semangatnya belum benar-benar kuat dan tekadnya belum bulat, maka tobatpun sangat mungkin akan tetap terkendala. Dan itu, tanpa tersadari, ternyata sering terjadi pada orang-orang yang bertobat.

Disamping itu, yang menjadi konsekuensi mendasar dari syarat kedua ini adalah, bahwa kejujuran tekad dalam meninggalkan suatu dosa juga harus dibuktikan dengan sebisanya meninggalkan, melepaskan, menjauhkan, atau membuang segala sesuatu, apapun bentuknya, yang berhubungan atau yang menyambungkan dengan dosa itu. Karena jika tidak, maka hal itupun akan menjadi bagian kendala penting bagi efektifnya tobat yang dilakukan.

Sedangkan tuntutan dan konsekuensi dari syarat ketiga yang berupa azam (tekad kuat) untuk tidak mengulangi lagi dosa yang sama, adalah dengan upaya riil seoptimal mungkin untuk sebisanya menutup setiap pintu akses bagi kemungkinan terulangnya kembali dosa dan maksiat tersebut di masa mendatang. Nah, tidak sedikit kendala utama tobat itu juga berasal dari kekurangan dan kelemahan dalam memenuhi syarat ketiga ini. Dan bentuknya minimal dua. Pertama, kurang kuatnya keinginan sehingga tidak sampai pada derajat azam yang berarti semangat kuat dan tekad bulat. Dan kedua, ketidak seriusan atau kekurang sungguhan atau juga kelemahan dalam upaya menutup pintu akses dan peluang jalan, yang bisa memungkinkan terulangnya dosa-dosa itu lagi!

Akhirnya, sekali lagi Ramadhan sudah semakin dekat. Maka mari membersihkan hati dan menyucikan jiwa dengan taubatan nashuha. Syaratnya, pertama mari jujur menyesali dosa-dosa karena takut kepada Allah Ta’ala. Kedua, tinggalkanlah maksiat, buanglah dan jauhkanlah segala yang terkait dengannya. Ketiga, berazam benar-benar untuk tidak mengulangi lagi dengan bukti sebisanya selalu berupaya menutup akses untuk kembali kepada dosa-dosa itu lagi, dan lagi.. Keempat, juga jangan lupa istighfar sebanyak2nya, dan kelima, tak henti mengistimewakan amal selagi bisa. SEMOGA!

Ustadz Jum’ah Amin: Pembinaan Manusia sebagai Modal Kebangkitan Umat

Islam tegak di atas jamaah, kalau untuk urusan ibadah fardi mungkin semua muslim bisa melakukannya. Tetapi sebagian pelaksanaan hukum-hukum Allah dia tidak akan bisa ditegakkan kecuali dengan adanya jamaah. Jika tidak, siapa yang akan melaksanakan hukum hudud? Siapa yang memberi komando untuk berjihad? Oleh sebab itu kita memerlukan sebuah hukumah, dan hukumah ini tidak akan muncul kecuali dari jamaah. Karenanya berjamaah adalah sebuah keniscyaan.

Sebuah jamaah tidak akan muncul, kecuali dari pribadi-pribadi yang shalih, yang hati-hatinya telah terpaut dalam cinta kasih karena Allah, bertemu untuk taat kepada Allah, bersatu untuk berdakwah kepada Allah, saling berjanji untuk menolong agama Allah.

Satu hal yang perlu saya tegaskan di sini adalah bahwa Islam bukan hak untuk satu orang, bukan juga hak untuk satu jamaah. Ia adalah milik semua orang. Karenanya kewajiban berdakwah juga adalah kewajiban semua orang.

Hanya yang perlu diingat bahwa orang-orang yang mengemban risalah ini perlu kepada rijal yang saling diikat oleh ikatan ukhuwwah, saling mencintai, ikatan yang diikat hanya oleh Allah SWT.

Yang kedua dakwah ini memerlukan rijal yang siap berkorban. Siap melakukan kerja-kerja mentarbiyah untuk melahirkan insan yang benar akidahnya, sahih ibadahnya. Sebab dari sinilah akan keluar sebuah hukumah yang baik.

Bagaimana jalan untuk sampai ke hukumah? Hukumah berasal dari ummah. Ummah ini perlu dikeluarkan dari kegelapan kepada cahaya. Dengan cara hikmah, mauidhah dan mujadalah billati hiya ahsan. Karenanya kita bergerak dengan akhlak. Ali ibn Abi Thalib berkata: “Siapa yang lembut kata-katanya maka wajib mencintainya”. Dengan manhaj yang benar, rijal yang benar, yang mampu berdiskusi dengan menggunakan hujjah-hujjah yang kuat, maka insya Allah ummat ini akan mampu keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Lihatlah sejarah Rasulullah SAW, kondisi masyarakatnya yang luar biasa jahilnya. Bagaimana Rasulullah bergerak? Beliau bergerak dari pembinaan manusia, sebab pelaku perubahan itu adalah manusia.

Tengok juga kondisi masyarakat Mesir, yang saat itu dijajah oleh Inggris, riba dipraktikkan secara resmi, ditambah lagi serangan ghazwul fikri dan kristenisasi. Sementara jika ada muslim yang multazim dianggap sampah. Sungguh luar biasa. Dalam kondisi seperti ini kita kembali bertanya: Bagaimana Imam al-Banna bergerak? Tidak lain adalah dengan pembinaan rijal. Membina dengan memberikan kefahaman Islam yang syamil dan mutakamil. Alangkah miripnya hari ini dengan hari kemarin.

Pembinaan dengan menitik beratkan praktik ubudiyyah kepada Allah SWT. Sebab ada istilah “kun ubbaadan qobla quwwaadan” jadilah kamu `abid-`abid sebelum menjadi qai`d.

Lihatlah apa yang Allah sifatkan mengenai sahabat-sahabat Rasululullah SAW di dalam surah al-Fath:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Artinya:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya keras kepada orang kafir kasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka ruku` dan sujud, mencari kurnia dari Allah SWT, ada tanda pada wajah mereka dari bekas sujud. (al-Fath : 29)

Imam al-Banna ketika berdiskusi tentang perbaikan umat, ia mengatakan kita mesti beranjak dari satu titik yang mesti kita sepakati, yaitu:

الصلاة ثم الإصلاح

Shalat dulu kemudian Ishlah

Imam al-Banna sendiri mengingatkan kita dalam wasiatnya: “Segera lakukan shalat ketika engkau mendengar adzan, walau bagaimanapun kesibukanmu”, Sunnah rawatib itu seolah-olah menjadi wajib bagi orang yang berjalan diatas jalan dakwah ini. Sebab itulah kenapa muncul istilah “katibah”. Katibah yang kegiatannya sarat dengan muatan-muatan ruhi dan maknawi, dan inilah yang disebut dengan “ubbaadan”.

Sebab itu juga kenapa Imam al-Banna menjadikan kewajiban ikhwah untuk memiliki wirid harian, yang tidak kurang dari satu juz, istighfar 100 kali, sebab itu juga kenapa muncul istilah al-Ma`tsurat wirid pagi dan petang, qiyamullail dan sebagainya. Kesemuanya ini menjadi titik berat dalam menshiyaghah pribadi muslim.

Jika kita kembali kepada sejarah. Yang dikhawatirkan oleh Abu Bakar saat beliau memberangkat pasukan perangnya adalah jauhnya mereka dari ubudiyah kepada Allah, sebab itu beliau berpesan: “Sesungguhnya kamu tidak akan menang atas musuh-musuh kamu kecuali setakat kedekatan kamu kepada Allah SWT.

Secara logis, orang yang punya persenjataan cukup pasti akan menang. Akan tetapi bisa saja Allah berkehendak lain. Karena kuatnya hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan berikan kemenangan, sebab kemenangan itu datangnya dari Allah. Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang besar.

Ini juga yang dipesankan oleh Umar ibn Khattab: “Sesuatu yang paling aku takutkan kepada kalian adalah dosa-dosa kalian”.

Karena itu juga Allah mewajibkan qiyamullail kepada Rasulullah SAW sebelum memberikan tugas-tugas dakwah kepada beliau. Bangunlah, lakukan qiyamullail… sesungguhnya Aku akan memberikan kepadamu qaulan tsaqilan.

Di dalam surah al-Isra` juga dijelaskan bahwa solusi yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad dalam menghadapi tekanan dari masyarakat Quraisy adalah dengan shalat.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (78) وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Artinya:

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan [dirikanlah pula shalat] subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (al-Isra:78-79)

Jika kesiapan maknawi cukup bagus yang terjadi adalah seperti yang dikisahkan dalam sejarah mengenai seorang sahabat.

Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Syaddad ibn al-Had bahwa seorang A`raby datang kepada Rasulullah SAW, ia beriman dan kemudian berbaiah kepada Rasulullah SAW, seraya berkata: “Saya mau ikut hijrah bersamamu Ya Rasulullah”. Kemudian ia ikut berperang bersama Rasulullah SAW dan menang. Saat ghanimah dibagikan kepadanya ia berkata: “Apa ini?”, Rasulullah SAW menjawab: “Ini adalah bagianmu dari ghanimah”. Ia berkata: “Bukan untuk ini aku berbai`ah kepadamu, hanya saja aku ingin agar aku dipanah disini” sembari menunjuk lehernya, kemudian bangkit dan maju ke medan perang, sehingga ia terpanah persis pada tempat yang ditunjuknya, dan mati syahid.

Sungguh orang yang jujur kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan mengabulkan permintaannya. Orang-orang seperti inilah yang kita inginkan, untuk tegaknya agama Allah di atas permukaan bumi ini, sekalipun perlu waktu yang cukup panjang. Sebab kemenangan tidak diukur dengan umur kita.

Saya selalu berpesan kepada para mukhaththith, berwudhulah, sebelum membuat perancangan, sebab boleh jadi dengan demikian Allah akan memberikan taufiq-Nya kepada kita dalam membuat rancangan-rancangan ini.

Berapa banyak orang-orang yang punya kepakaran di yang kapasitas mereka diatas rata-rata, banyak membuat kebijakan, perancangan dan proyek-proyek, tetapi karena tangan-tangan mereka tidak berwudhu, maka berakhir dengan kehancuran.

Satu hal yang perlu saya tegaskan disini adalah tentang Tabiah Ma`rakah ini, peperangan antara hak dan kebathilan. Perang yang bersifat kontinyu, sebab itu Allah ungkap dalam bentuk fiil mudhori` (present). Allah berfirman:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Artinya:

Mereka akan terus menerus memerangi kamu hingga kamu murtad dari agama kamu jika mereka mampu (al-Baqarah:217)

Oleh sebab itu jangan pernah jemu, jangan putus asa, siapkan dirimu untuk berjihad. Orang beriman yakin akan pertolongan Allah, sekalipun turun pada umat atau jamaah ini ujian Allah. Kita semua mesti meyakini bahwa semua itu adalah baik. Lihatlah sikap orang beriman yang diceritakan Allah dalam al-Qur`an.

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Artinya:

Dan Ketika orang-orang bertaqwa ditanya: “apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan-mu?” mereka menjawab: “Sesuatu yang baik”, bagi orang-orang yang berbuat Ihsan di dunia ada kebaikan, dan sungguh rumah akhirat lebih baik dan sebaik-baik rumah orang-orang yang bertaqwa.(al-Nahl:30)

Modal berikutnya untuk menjadi insan rabbani adalah ukhuwwah dan mahabbah. Ukhuwwah bukan fadhilah (keutamaan), akan tetapi ia adalah sebuah faridhah (kewajiban). Jika seseorang sudah dicintai Allah, disebabkan dia mencintai orang lain karena Allah, maka Allah akan membuat dia mudah dicintai oleh orang lain dan mudah diterima oleh orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

Artinya:

Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia, diapun dicintai oleh Jibril. Jibril memanggil penduduk langit dan mengatakan sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia, maka diapun dicintai oleh penduduk langit, kemudian ditetapkan untuknya peneriman di bumi. (HR. Bukhari)

Karena itu ukhuwwah dan mahabbah ini menjadi modal dalam perjuangan kita, bekerjalah dengan mahabbah, berdakwahlah dengan mahabbah bahkan berperang dengan mahabbah. Karena itu ukhuwwah ini menjadi salah satu rukun bai`ah kita. Menjadi modal kita dalam merubah masyarakat.

Saya ingin menutup pembicaraan ini dengan beberapa langkah-langkah yang dilakukan Imam al-Banna dalam memulai proyek kebangkitan umat:

  1. Beliau mulai menyenaraikan tantangan-tantangan yang ada di tengah-tengah masyarakat.
  2. Mengkaji sejarah, kemudian mengambil kesimpulan dari sejarah tadi serta mengaitkannya dengan kondisi masa kini, dan bagaimana mengimplimentasikannya.
  3. Mengkaji kondisi masyarakat, sebab itu kita melihat Imam al-Banna membagi 4 golongan masyarakat: mu`min (yakin), mutaraddid (ragu), naf`i (oportunis) dan mutahamil (dengki). Dan bagaimana berinteraksi dengan masing-masing golongan ini.
  4. Imam al-Banna juga mengkaji sejarah umat yang pernah bangun, sebab “hikmah itu adalah barang mukmin yang tercecer, dimana ia mendapatkannya, maka ia adalah orang yang paling berhak memungutnya. Dah hal ini sangat jelas dalam perkataan beliau di dalam majmuah al-Rasail “Saya lihat orang-orang yang bekerja untuk membangun peradaban kebangkitan umat, diberi taufiq dan berhasil, berbuah, sebab mereka mempunyai manhaj yang jelas, di atasnya mereka bekerja, tujuan yang jelas, kepadanya mereka menuju, digariskan oleh para pendakwah kepada kebangkitan dan mereka bekerja untuk mewujudkannya, selagi ajal masih ada selagi itu pula mereka terus bekerja hingga habis masa mereka digantikan oleh generasi yang berikutnya yang datang setelah mereka, mereka bekerja mengikut manhaj yang telah digariskan, mereka memulai dititik mana mereka mengakhiri, mereka terus mengambil tongkat estafet, tidak merubah pondasi yang telah dibina, tidak menghancurkan apa yang telah dibangun, bahkan jika tidak mereka mempercantik apa yang telah dibangun oleh pendahulu mereka, atau memeperkokoh.”

 

8 Pesan dari Palestina untuk Kader PKS Kota Bekasi

8 Pesan dari Palestina untuk Kader PKS Kota Bekasi

Kota Bekasi,27 Juni 2011

Sabtu, 25 Juni 2011, lalu DPD PKS Kota Bekasi bekerja sama dengan Asia Pacific Community Conference for Palestine menyelenggarakan Seminar Terbatas mengenai “Masa Depan Negara Palestina dan Refleksi Dakwah Kontemporer di Indonesia”. Sebagai pembicara tunggal adalah  Syaikh Said Tholal Ad-Dasyam, yang pada saat ini menjabat Kepala Dinas Penerangan – Biro Politik HAMAS. Acara yang berlangsung di Ruang Muzdalifah, Asrama Haji Bekasi, tersebut berlangsung dari pukul 19.30 hingga 21.30 WIB.

Dalam paparannya, yang secara langsung diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh kader PKS Pondok Gede, Ustadz Zufar Bawazir, Syaikh Tholal menceritakan kondisi aktual Palestina. Sebuah kondisi keterbatasan dan ketertindasan oleh Zionis Israel, namun justru telah menumbuhkan jiwa-jiwa pejuang, bukan hanya di kalangan pria-pria dewasa, namun juga ibu-ibu dan anak-anak.

Diceritakan bagaimana pada saat ini masyarakat Palestina justru semakin dekat dengan Allah SWT. Saat ini orang-orang di Palestina mendidik diri mereka, istri mereka, anak mereka, untuk taat dan taqorrub kepada Allah. Mereka berlomba-lomba untuk sholat shubuh di masjid. Mereka berlomba-lomba mendidik istri mereka dengan kitabullah, membaca dan menghafal Quran. Demikian juga dengan anak-anak mereka. Dengan fastabiqul khoirat tersebut, mereka merasa semakin dekat dengan Allah.  Dan karenanya mereka meyakini janji kemenangan dari Allah Ta’ala semakin dekat, “intanshurullah yanshurkum wa yutsabbit  aqdaamakum”.

Yang kedua, mereka begitu meyakini firman Allah “Innallaha la yughayiru ma biqaumin hatta yughayiru ma bianfusihim” yang menginspirasi pergolakan di negara-negara  Arab: Mesir, Tunis, Libya, Yaman, umat Islam berusaha menumbangkan para rezim yang dzolim yang memberikan penderitaan kepada rakyatnya. Husni Mubarrak, Zainal Abidin dan durjana lain akan ditumbangkan karena memberikan penderitaan kepada rakyatnya itu. Dan apa yang dilakukan di Indonesia, Malaysia, dan Turki, untuk terus membangkitkan nilai-nilai Islam hingga kemenangan Islam akan terus muncul, semakin meyakinkan mereka bahwa kemenangan di Palestina tidak akan lama lagi, dan masjidil Aqsha akan segera dimerdekakan dengan izin Allah.

Yang ketiga, sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nur: 55 “wa’adallahulladzina aamanu minkum wa ‘amilushalihati layashtakhlifannahum filardhi ka mastakhlafalladzina min qablihim .. “ (ila akhiril ayah), Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa Allah pasti menjadikan mereka khalifah pemimpin di muka bumi. Mereka meyakini janji Allah dan bahwa Allah tidak akan mengingkari janjinya “innallaha la yuhliful mi’ad”. Itu adalah sebuah sunnatullah. “Wa lan tajida li sunnatillah tabdila” dan kalian tidak akan mendapati suatu perubahan pun dalam sunnatullah dan mereka yakin apa yang dijanjikan Allah sebagai kebenaran.

Syaikh Tholal juga memaparkan kecintaan masyarakat Palestina terhadap jihad. Mereka yakin Palestina harus dan hanya bisa merdeka dengan jihad bukan dengan perjanjian-perjanjian yang dibuat atau ceramah/pembicaraan yang dilakukan. Sebagaimana firman Allah dalam QS As-shoff:10-11 “Ya ayyuhalladzina amanu hal adullukum ‘ala tijarotin tunjikum min ‘adzabin alim. Tu’minuna billah wa rasulihi wa tujahiduna fi sabilillahi bi amwalikum wa anfusikum. Dzalikum khairullakum in kuntum ta’lamun.”

Kecintaan kepada jihad ini merata di seluruh kaum muslimin di Palestina, sehingga ibu-ibu berlomba-lomba untuk mempersembahkan anak-anaknya menjadi syuhada. Seorang ibu yang bernama Ummu Nidhal dia sangat senang mempersembahkan 6 putranya di jalan Allah, namun hanya tiga (Nidhal, Rowad, dan Muhammad) yang gugur sedangkan tiga lainnya selamat kembali ke rumah.

Contoh lain, seorang pemudi/gadis bernama Riim Riyash yang dilamar oleh seorang pria. Gadis ini memberi syarat, bahwa dia telah mendaftarkan diri sebagai pelaksana istisyhadiyah. Dan harus diizinkan untuk meninggalkan suami dan anak-anak apabila ada panggilan istisyhadiyah. Pemuda ini setuju untuk meminang dan menikahi dan dia suka dengan istri yang cinta jihad dijalan Allah. Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai dua anak di antaranya yaitu seorang bayi yang sangat sehat bernama Muhammad. Dan ketika datang panggilan istisyhadiyah, dia meninggalkan suami dan kedua anaknya dengan menitipkannya kepada “Yang Tidak Pernah Lalai dan Tidak Pernah Lengah”, kepada “Yang Maha Hidup dan Maha Memberikan Pertolongan” demi menunaikan tugas memerdekakan Palestina. Menunaikan janji di jalan Allah hingga pada akhirnya dia bisa gugur di jalan Allah.

Harapan dan Pesan

Sekarang apa yang mereka butuhkan dari rakyat Indonesia, khususnya kepada sekitar 1000 peserta yang merupakan kader inti PKS se-Kota Bekasi. Inilah pesan dari Syaikh Tholal:

Pertama, adalah agar mengikuti perintah Allah Ta’ala, “bahwa ketika antum semua tunduk pada perintah Allah maka ini merupakan saham yang antum tanamkan di jalan Allah untuk kebebasan di Palestina. Karena ini adalah upaya untuk meninggikan kalimatullah di bumi palestina.”

Kedua, agar mentarbiyah dan mendidik anak-anak dan istri-istri kita sesuai sunnah Rasulullah SAW. “Mari kita didik mereka untuk cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Rasulullah. Kita didik dengan pendidikan yang Islami. Anak-anak tidak diciptakan oleh Allah dengan sia-sia, tetapi dengan tujuan mulia. Karena itu pendidikan mereka, pengenalan mereka akan nilai-nilai Islam, pengenalan pada akhlak Islam ini adalah bagian dari langkah kita untuk menuju kepada pembebasan negeri Palestina.”

Ketiga, menanamkan pemahaman jihad yang benar kepada masyarakat umum, baik orang-orang yang sudah tua, pemuda,  pria maupun wanita. “Karena jihad ini bisa membebaskan negeri dan umat Islam memerlukannya. Sebab rasulullah SAW bersabda “ma taroka qaumul jihada illa dzalu“. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad kecuali mereka pasti menjadi hina. Oleh karena itu pemahaman akan jihad dengan pemahaman yang benar ini harus disampaikan kepada masyarakat. Tidaklah negeri-negeri yang terjajah itu bisa merdeka kecuali dengan jihad fi sabililah.”

Keempat, yaitu infaq fi sabilillah. “Bahwa infaq di jalan Allah merupakan bagian perjalanan jihad. Allah berfirman “innalahasytara minal mu’minina anfusahum wa amwalahum bi anna lahumul jannah”, sesungguhnya Allah telah membeli orang-orang mu’min jiwa dan harta mereka dengan surga. Bahwa berinfaq di jalan Allah merupakan suatu sarana untuk menjadikan seseorang siap untuk berjihad. Orang yang tidak mau mengeluarkan hartanya, jangan dikira bahwa dia akan memberikan jiwanya. Seseorang yang tidak terbiasa untuk memberikan hartanya berjihad fi sabilillah dia tidak akan mampu mengorbankan jiwanya untuk dinilai dengan penilaian di sisi Allah SWT. Maka kita harus membiasakan diri untuk berinfaq di jalan Allah karena dengan sering dan membiasakan diri berinfaq kita baru akan bisa memberikan pengorbanan dengan jiwa kita, dengan diri kita.”

Kelima, yaitu menanamkan kecintaan kepada al-Quds. “Bahwa al-Quds bukanlah milik kami. Bukan hanya milik bangsa Palestina. Tapi milikk umat Islam di seluruh dunia. Oleh karena itu harus tertanam dalam jiwa kita untuk membebaskan al-Quds karena kita mencintainya. Seluruh umat Islam bertanggung jawab untuk terbebasnya al-Quds dari cengkeraman Yahudi Zionis.”

Keenam, yaitu dukungan secara politik dan pers. “Kami mengetahui di sini di salah satu komisi di parlemen dicantumkan pembelaan Palestina. Ini merupakan sebuah hal yang luar biasa. Saya, baik atas nama Hamas, maupun atas nama rakyat Palestina mengucapkan terima kasih kepada parlemen Indonesia. Saya telah bertemu beberapa orang di parlemen yang mereka telah mencanangkan agenda pembelaan Palestina dalam program kerjanya. Tapi kami rasa bahwa ini juga harus didukung oleh kaum Muslimin dimana setiap kita haruslah selalu menyuarakan pembelaan terhadap Palestina. Seorang guru di tempat mengajarnya, seorang yang bekerja di kantor, seorang ibu rumah tangga, harus terus menyuarakan pembelaan terhadap Palestina, baik melalui surat kabar, melalui internet, dan semua media yang bisa dilakukan sehingga Allah SWT memberikan kemerdekaan dengan izin dari -Nya.”

Ketujuh, yaitu berdoa. “Berdoa ini seringkali diremehkan oleh sebagaian orang karena dianggap sebagai suatu yang tidak ada nilainya. Padahal do’a adalah sesuatu yang tidak pernah meleset kalau dihadapkan kepada Allah SWT. Karena itu panjatkanlah doa di malam hari atau kapanpun. Hadapkanlah wajah dan tinggikanlah tangan untuk memohon kepada Allah SWT agar membebaskan negeri Palestina, agar menyingkirkan para penjajah, dan menghancurkannya sesuai perintah-Nya “ud’uni astajib lakum” berdo’alah kepada Aku kabulkan do’a kalian.”

Terakhir, yaitu tidak condong kepada program-program Yahudi dan juga memboikot produk-produk mereka serta produk-produk negara yang mendukung mereka. “Ini adalah sebuah upaya untuk tidak menjadikan mereka lebih berpotensi untuk menguatkan diri. Baik di bidang kendaraan, peralatan-peralatan lain. Dan apapun yang terjadi maka kami adalah orang-orang yang terus berlindung kepada Allah SWT sebagimana Allah berfirman dalam al-Quran “hasbunallahwa wa ni’mal wakil”. Bahwasanya orang-orang munafik berkata kepada orang beriman” sesungguhnya orang-orang yang kafir musuh-musuh itu telah bersatu-padu mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kalian. Maka takutlah kepada mereka.” Lalu orang-orang beriman itu mengatakan,”Cukuplah Allah menjadi pelindung kami. Dialah sebaik-baik pelindung.” Maka kami tidak takut dengan kekuatan-kekuatan mereka. Dan doa yang selalu kami panjatkan di negeri kami, siang dan malam, hasbunallah wa ni’mal wakil,” demikian Syaikh Tholal menutup kedelapan pesannya.

Pengumpulan Dana

Dalam acara tersebut juga telah dilakukan penggalangan dana untuk Palestina secara spontan. Hasil yang terkumpul sebanyak Rp 33 juta rupiah ditambah dengan sejumlah perhiasan. Ketua DPD Kota Bekasi, Bp Choiruman J. Poetro, menyampaikan penghargaan kepada para peserta seminar serta doa jazaakumullahu khairon katsir atas dana yang terkumpul. Ustadz Choiruman juga mengharapkan semangat perjuangan rakyat Palestina yang dipaparkan dapat menginspirasi, memberi ide, gagasan, serta spirit kepada kita di Kota Bekasi, untuk memajukan da’wah di Kota Bekasi ini. (Bw)

Dengan Cinta dan Kepahaman Kita Sambut Ramadhan

Dengan Cinta dan Kepahaman Kita Sambut Ramadhan

Paruh kedua Rajab tengah berjalan. Tak lama, segera menjelang Sya’ban. Artinya tak sampai satu setengah bulan lagi, kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan, Sang Bulan Istimewa, insyaAllah. Demikian itulah yang selalu kita pintakan kepada Allah SWT, “Allahumma baariklana fi rajaba wa sya’ban, wa ballighna ramadhan. Duhai Allah, berkahilah kami di bulan Rajan dan Sya’ban, dan sampaikanlah dengan Ramadhan.”

Ust Abdurrahman Tamin, Ketua Bidang Kaderisasi DPC Pd Gede

Demi menjemput Ramadhan tersebut, Sabtu/Ahad, 18/19 Juni lalu, DPC PKS Pondok Gede menggelar tarhib ramadhan di Masjid Al-Abror. Ustadz Abdurrahman Tamin, Ketua Bidang Kaderisasi DPC PKS Pondok Gede dalam sambutannya menyampaikan,”Ramadhan harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Dan agak berbeda dengan acara-acara tarhib yang telah lalu, kegiatan tarhib kali ini sengaja diadakan pada malam hari. Dengan materi taujih dan qiyamullail, diharapkan suasana yang terbangun dapat menyerupai malam-malam Ramadhan.” Beliau juga mengharapkan,”Tarhib ini kita lakukan dengan lebih dini, agar secepat mungkin kita kembali merindukan suasana Ramadhan.”

Kecintaan serta pemahaman akan betapa mulianya bulan Ramadhan ini, akan menyebabkan setiap muslim merindukan kehadiran bulan Ramadhan sebagaimana terpancar dalam doa di atas. Perlunya kedua aspek itulah, cinta dan paham, yang kembali ditegaskan oleh Ustadz Mahfudzi Abdurrahman dalam taujihnya malam itu. ”Kecintaan seorang muslim kepada sesuatu akan menyebabkan orang tersebut menginginkan dan menginginkannya lagi. Demikian pula, seorang muslim yang memiliki rasa cinta dengan Ramadhan akan senantiasa menginginkan kembalinya Ramadhan.” Seorang muslim yang paham dengan kemuliaan Ramadhan juga akan menginginkan kembali datangnya Ramadhan. Ustadz Mahfudzi mengingatkan kembali dengan sebuah peringatan dari Rasulullah SAW, bahwa seandainya saja manusia tahu keistimewaan bulan Ramadhan, pastilah mereka akan meminta semua bulan adalah Ramadhan. Subhanallah.

Ust Mahfudzi Abdurrahman, Bendahara Umum DPP PKS.

Ustadz Mahfudzi, yang pada saat ini menjadi Bendahara Umum DPP PKS dan juga Anggota Komisi VI DPR RI, melanjutkan taujihnya,”Ramadhan harus menjadi momentum untuk meningkatkan capacity building dan family building setiap muslim. Ukuran keberhasilan ubudiyah seorang muslim bukan hanya benar, namun juga efektif. Efektivitas itu akan tercermin dalam perilaku sosial seorang muslim baik terhadap pribadinya, keluarganya, dan masyarakatnya.”

Tarhib Ramadhan sekaligus mabit DPC Pondok Gede ini diikuti oleh lebih dari 75 kader inti ikhwan di DPC Pondok Gede. Setelah acara taujih yang selesai pada pukul 22.30, acara dilanjutkan dengan qiyamullail yang dipimpin oleh Ustadz Heru Siswantu, staf pengajar dan pengurus pada Muntada Ahlul Qur’an Pondok Gede.

Alhamdulillah, tarhib Ramadhan semakin membudaya pada tahun-tahun terakhir ini. PKS, yang bercikal bakal dari berbagai lembaga dakwah di kampus-kampus, memiliki sumbangan yang tidak kecil dalam menghidupkan kembali budaya ini semenjak awal tahun 1990-an. Dan sumbangan dari PKS untuk bangsa ini akan terus mengalir, semakin deras, dengan tambahan kapasitas yang terbina dalam diri setiap kader dalam Ramadhan mendatang, insyaAllah. (Bw)

Materi Terakhir dari Ustadzah Yoyoh

Sabtu, 21 Mei 2011 lalu, Allah Subhana wa Ta’ala telah memanggilnya. Semoga Dia selalu menyayangi beliau di  sisi-Nya.
Belum lama sebelum Allah panggil beliau, sejumlah akhwat Pondok Gede melakukan jalasah ruhi, bermuwajahah dengan beliau di kediamannya, Senin, 16 Mei 2011. Berikut ini, oleh-oleh materi yang beliau sampaikan dalam acara tersebut, setelah diterjemahkan oleh Biro Bahasa Arab – Bidang Kaderisasi DPC PKS Pondok Gede.
Semoga menambah amal jariyah beliau, dan menjadi bekal bagi kita yang ditinggalkan. Amin.

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga untuk Rasul Allah, keluarganya dan para shahabatnya dan orang yang selalu setia kepadanya sampai hari kiamat.
Wirid hatiDoa ini disusun dan dibagi dalam empat bagian, yakni:

Bagian Pertama:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini …. “

Pertama:  Shifatul Qulub: telah berkumpul atas dasar kecintaan pada-Mu, bertemu atas dasar ketaatan pada-Mu Bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu Berjanji setia untuk membela syariat-Mu.

Kedua: Tarbiyatul Qulub: maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalan-jalannya.

Ketiga: Zadul Qulub (bekal): Dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu

(Ustadzah mencontohkan imannya Umar bin Khaththab ra.)

Keempat: Amal Qulub: Hidupkanlah ia dengan pengenalan pada-Mu. Dan matikanlah ia dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik  pelindung penolong.

Mengapa (harus dengan) pembagian ini?

Dengan merenungkan apa yang Imam Hasan al-Banna jadikan wirid, banyak hati bertemu karenanya setiap sore setelah selesai dibacakan ayat yang mulia ini:

“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. (QS. Ali Imran: 26-27)

Dari ayat tersebut, menjadi jelas bahwa tampilan dunia seperti kekuasaan, kedudukan, harta dan kemulyaan hanyalah berada di tangan Allah Ta’ala, kekuasaan-Nya, dan dominasi-Nya. Dan disela-sela perenungan tentang kekuasaan, sifat, asma, dan segala nikmat-Nya, hakekat itu menjadi terang, dan menjadi pastilah makna rabbani dari makna ayat yang tersirat. Maka perkara yang sesungguhnya adalah perkara hati yang menghadap Tuhannya dan meninggi di tempat-tempat pendakian (ke langit) sehingga mencapai kedekatan (dengan-Nya) lalu menjadi istimewa dengan penuh keramahan, suka cita, kesenangan dan kegembiraan. Dan itulah ujung dari penciptaannya dan maksud keberadaannya.

Dan pada saat permulaan maghrib yang menjadi awal datangnya malam, hati melihatnya lalu bergembira dan bahagia karena malam itu adalah bertemunya hati dengan Rabb-nya, dengan kekasihnya, sehingga di malam hari dimana semua manusia tertidur, alam menjadi hening, dan berhentilah semua aktifitas, Allah turun ke langit dunia untuk bertemu dengan hati yang terjaga dan yang memiliki penglihatan, karena itulah maka yang pertama adalah doa ini:

“Ya Allah, sesungguhnya ini adalah kedatangan malam-Mu, Dan terlepasnya siang-Mu, Serta suara-suara yang menyeru kepada-Mu, Maka ampunilah kami”

Dengan persiapan hati seperti ini, Imam al Banna hendak menularkan kepada kita tentang kondisi beliau saat bersama Rabb-nya dan rasa bahagia dan gembira hati beliau. Tidaklah doa-doa seperti ini dipilih begitu saja secara acak yang ditulis oleh pena seorang penulis, atau dipikirkan oleh pengarang,  dan saya yakin bahwa  sesungguhnya Imam Al Banna menginginkan dari doa ini agar kiranya kesinambungan dan rutinitas berdoa kepada Allah Ta’ala selalu dihubungkan dengan hati dan aktififitasnya. Maka beliau mengawali wirid hati dengan:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini …. “

1. Ya Allah !

Apakah Anda ingin hidup di bumi sedangkan Anda berada di surga? Ini adalah apa yang pernah ditanyakan oleh ulama’ salaf kepada para pengikutnya lalu mereka semua menjawab: Ya, maka ia menyampaikan hadits Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam : “Apabila kalian melewati taman-taman surga maka bersenanglah. Para shahabat bertanya; “Apa yang dimaksud dengan taman-taman surga itu? Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam berkata: “halaqah dzikir”…

2 – “Sesungguhnya Engkau mengetahui (bahwa hati ini)”:

Termasuk keindahan berdoa di hadapan Allah Tuhan semesta alam adalah bahwa Anda memohon kepada-Nya dan Anda telah menunaikan  (kewajiban) yang dibebankan kepada Anda, dan juga Anda mengedepankan amalan Anda dihadapan doa Anda, serta Anda berdoa kepada-Nya dalam keadaan yakin akan dikabulkannya, maka Imam al Banna hendak mendahulukan kesungguhan hati di hadapan Rabb-nya, dan segala sifat yang bisa mengkondisikannya dapat dipilih Allah dan dapat diasuh di bawah pengawasan-Nya. Maka beliau berkata;

“Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati ini telah…”

Dan sebagaimana kebiasaan Imam al Banna saat memanggil para ikhwan yang terus bekerja dengan (panggilan) “ikhwan yang jujur”, maka beliau memberikan arahan kepada mereka dengan risalah-risalah khusus tentang al fahmu, takwin, dan amal. Hal itu bukan berarti bahwa wirid hati layak bagi manusia tertentu dan tidak layak bagi yang lainnya atau sebuah penghalang bagi kelompok tertentu, tetapi masalah ini adalah masalah kompetisi dalam kebaikan dan saling bergegas dalam mewujudkan sifat-sifat tersebut. Karena, Islam membuka jalan para penempuh jalan menuju Rabb mereka. (“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”) (QS. Al Muthaffifin: 86)

Dan ketika masalah ini berkaitan khusus dengan hati, maka yang lebih utama bagi para penempuh jalan adalah mempercepat langkah, maka alangkah indahnya bersiap-siaga dan bersungguh-sungguh untuk sampai kepada Tuhan semesta alam, dan tidaklah orang-orang yang saleh dan jujur bersenandung kecuali pada sekitar makna ini?!

Pertama: Sifat-sifat hati ini:

1 – “Bertemu atas dasar cinta kepada-Mu”:
Ini adalah pertemuan yang tidak mengenal kata henti atau rintangan, karena ia adalah pertemuan yang tersambung, terus-menerus dan berkelanjutan, yang berdiri di atas cinta Allah Ta’ala, Hal itu karena cinta adalah status tertinggi dari posisi para penempuh jalan menuju Allah yang mana dapat terwujud nilai ubudiyah murni hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Pada tataran kedudukan ini ada pertemuan yang lebih nikmat dan menyenangkan yang dapat membuat para abid (ahli ibadah) merasa nyaman dengan semilir anginnya yang sepoi-spoi, karena ia adalah makanan hati, penglipur lara, hidup yang hakiki, cahaya, obat, bahkan kelezatan yang sempurna.

2- “Dan bertemu di atas dasar ketaatan kepada-Mu”

Ahli taat -bahkan katakanlah ahli ibadah- yang mana ibadah itu adalah ujung dari yang mereka kehendaki, tidaklah mereka tumbuh kecuali memohon Allah agar menolong dan memberi taufik kepada mereka untuk taat.

Dan inilah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah tercinta -salallahu alaihi wasallam- kepada orang yang dicintainya Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu anhu- maka beliau berkata: “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku sungguh mencintaimu, maka janganlah kamu lupa untuk mengucapkan setiap selesai shalat: “Ya Allah, tolonglah aku untuk bisa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada-Mu dengan baik”.

3- “Dan berpadu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu”:

Yang dimaksud dakwah yang dikaitkan oleh Imam al Banna kepada Allah Ta’ala adalah risalah Islam. Sedangkan para pelaku risalah adalah hati yang telah bersatu dalam memahami dan menerima risalah dan persepsi mereka tentang risalah, kemudian bersatu dalam beramal, merealisasikan, dan mengejawantahkan risalah itu sebagaimana Allah telah turunkan.

4- Berjanji setia untuk membela syariat-Mu.

Sesungguhnya hati yang telah dipersiapkan dari hadapan Rabbnya untuk menempati kedudukan dekat dari-Nya ini, maka pertemuannya adalah diatas cinta dan ketaatan kepada-Nya, sehingga menjadi barisan yang kokoh lalu berpadu di atas dasar dakwah kepada-Nya dalam pemahaman, amal dan menyebarkannya. Allah telah mempersiapkannya untuk peran para Nabi dan amalan mereka adalah amalan para Nabi, mereka adalah para reformis saat kondisi keterasingan, dan mereka adalah ahli kebenaran di depan setiap kebatilan.

Kedua: Tarbiyatul Qulub:

Dari sinilah beliau memulai doanya kepada Allah supaya Allah menjadikan hati ini dalam produk rabbani, tarbiyah ilahiah, dan ia berjalan pada jalan para Nabi, melakukan tugas mereka, dan memperkokoh risalah Allah di bumi-Nya.

1- ‘Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya’

Dalam pemahaman Imam Al Banna yang mana beliau berdoa dengan doa ini, ia adalah merupakan salah satu dari rukun bai’at yang sepuluh: “ukhuwah” yang beliau jelaskan dengan perkataan beliau:

Hendaknya hati dan ruh ini terikat dengan ikatan aqidah, karena aqidah adalah ikatan paling kuat dan paling tinggi. Sedangkan ukhuwah adalah saudara iman, sementara itu perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan yang paling kecil adalah persatuan, dan tidak ada persatuan tanpa cinta. Cinta yang paling bawah adalah selamatnya dada, dan yang paling tinggi adalah martabat itsar.

(“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”). (QS. Al Hasyr: 9)

2 – “Abadikanlah kasih sayangnya”:

Yang dalam Islam merupakan rejeki dari (Allah) Yang maha Rahman. Apabila Allah mengkaruniai Anda rasa kasih saying kepada seorang akh, maka pelihara dan jagalah ia:

Jika berpaling darimu, temuilah.

Jika menjauhimu, dekatilah.

Jika kikir padamu, berdermalah.

Sampai ia menjadi salah satu pendukungmu

3- “Tunjukkanlah jalan-jalannya”:

Allah –Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

”Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keredhaan Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”.(QS. Al Ankabut: 69)

Maka apakah dengan memperkuat ikatan dan mengabadikan kasih sayang, hati akan terisi kesempurnaan tarbiyah dan keagungan produk rabbani? Mau tidak mau, hati ini harus diliputi pagar yang kuat dan kokoh yang mampu menanggung kontuinitas dan tsabat bagi hati. Dan tidak ada jalan untuk menjelaskan dan untuk memberi petunjuk kecuali dari sisi para Rasul.

Ketiga: Zadul Qulub (Bekal hati):

Secara umum:

1. Dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup.

2- Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman

3- Dan keindahan tawakal kepada-Mu

Secara rinci:

1- “Dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup”.

Sungguhnya hati ini memerlukan bekal untuk meneruskan perjalanannya kepada Tuhannya. Sedangkan hati ini sangat memerlukan penjagaan bekal ini. Bekal yang pertama adalah saat Allah memberikan cahaya-Nya di hati ini sehingga hati ini bangun dan tidak tidur, selalu bersinar dan tidak lalai, kemudian Allah memberikan sebuah cahaya dari sisi-Nya, maka hati tersebut diberikan bashirah.

2- “Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman”:

Salah satu hal yang mendasari perkumpulan orang salaf adalah bahwa iman itu bertambah karena taat, dan berkurang karena maksiat. Dan bahwa sesungguhnya maksiat itu memakan iman dan memiliki pengaruh yang menyakitkan bagi pemiliknya. Begitu pula, iman juga bertambah di hati dan terlihat bekas-bekasnya pada badan dan anggota tubuh. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An Nahl: 97).

Allah juga berfirman:

“Katakanlah : “Hai hamba-hama-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu, orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan”. (QS. Az Zumar: 10)

3- Dan keindahan tawakal kepada-Mu:

Allah Ta’ala berfirman tentang para Nabi-Nya:

“Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri”. (QS. Ibrahim: 12)

Keempat: Amalul Qulub (Pekerjaan hati):

1- Hidupkanlah ia dengan bermakrifat pada-Mu.

Sesungguhnya hidup itu tidak akan ada kecuali dengan bermakrifat kepada Allah Azza wa Jalla:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami beri berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?”. (QS. Al An’am: 122).

Dan Allah juga berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. (QS. An Nahl: 97).

Hidup dengan bermakrifat kepada Allah artinya adalah merealisasikan semua makna tersebut sehingga seorang akh mendapatkan kehidupan bahagia dan tenang.

Kehidupan tersebut adalah kelezatan yang pernah dinikmati oleh para shahabat –ridhwanullahi alaihim- dahulu: Adakalanya berupa kemenangan dan kebahagiaan, adakalanya berupa shahadah (mati syahid) dan kebahagiaan. Sebuah ungkapan yang ringkas tetapi cukup untuk menyimpulkan kehidupan seorang mukmin dan aktifitas hatinya dalam hidupnya.

2- Dan matikanlah ia dalam keadaan syahid di jalan-Mu..

Apakah kematian itu sebuah pungkasan atau sebuah fase?…Sesungguhnya terlepasnya ruh dari kungkungan badan adalah merupakan kehidupan ruh itu sendiri. Karena di belakang itu ada ruh, kenyamanan, dan ketenangan.

Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik  pelindung penolong.
Sebagian para arifin billah berkata: “Hendaknya bergegasmu untuk keluar dari dunia ini sama seperti ketergesaanmu saat keluar dari penjara yang sempit untuk menuju orang-orang yang kau cintai”.

Allah Ta’ala berfirman:

“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezki serta surga kenikmatan”. (QS. Al Waqiah: 88-89)

Inilah yang dimaksud oleh Imam al Banna dan telah ada sifa-sifat hati dengan aktifitas seperti ini.

Wirid doa (istighfar 100 kali, tahlil 100 kali, dan shalawat kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam 100 kali)

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak lebih dari tujuh puluh kali”. (HR. Bukhari)

Setelah istighfar kita membaca: La ilaha illallah sebanyak 100 kali. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh aku membaca “Subhanallah, wal hamdulillah, wa la ilaha ilallah wallahu akbar” lebih aku cintai dari pada terbitnya matahari. (HR. Muslim)

Setelah kita membaca La ilaha illallah sebanyak 100 kali, kita membaca shalawat kepada Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam 100 kali dengan ucapan:” Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad (Ya Allah, berilah rahmat dan keselamat kepada junjungan kami Muhammad)”.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang bershalawat kepadaku maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali”. (HR. Muslim).

Itulah wirid-wirid yang kita sebagai para da’i wajib membekali diri kita dengan wirid-wirid tersebut sehingga kita mampu mendakwahi manusia dan berjalan bersama mereka menuju ridha Allah dan surga-Nya.

Semoga Allah memberikan balasan kepada Anda semua atas perhatian Anda yang serius.

Ya Allah berilah shalawat kepada Nabi kami Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya semuanya.

 

Al-Wafa (Memenuhi Janji), Bagian ke-2

15/3/2011 | 11 Rabiuts Tsani 1432 H | Hits: 3.609

Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

2. Sifat Positif Menepati Janji

Ilustrasi (inet) 

dakwatuna.com –

Menepati janji merupakan:

a. Kewajiban syar’i, baik terhadap sesama muslim maupun antara muslim dan non-muslim. Contoh perjanjian antara muslim dan non-muslim di masa Rasulullah SAW adalah

1) Piagam Madinah antara umat Islam dan Yahudi

2) Perjanjian Hudhaibiyah

Termasuk di dalam masalah ini adalah menepati waktu perjanjian, sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 4 dan hadits Rasulullah SAW:

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوْ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ketahuilah barangsiapa yang menzhalimi orang yang mendapat suaka atau menghinanya atau memberi beban di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaannya, maka saya adalah penuntutnya di hari kiamat” (HR Abu Dawud)

b. Akhlak yang utama (فضائل الأخلاق)

c. Ciri tingginya peradaban (روائع الظواهر الحضارية)

d. Sifat-sifat Mu’min dan Ulul-albab (صفات المؤمن وأولى الألباب)

e. Merupakan jenis kebajikan (البر)

f. Merupakan akhlak imaniyah (الأخلاق الإيمانية)

g. Akhlak para Nabi dan Rasul (أخلاق الأنبياء والمرسلين). Contohnya pada kisah Nabi Ismail:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا [١٩:٥٤]

Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan nabi. (QS. Maryam: 54)

Sifat menepati janji ini menurun ke Bangsa Arab.

h. Seruan agama yang Robbani (دعوة دين الربانى)

3. Janji-janji yang sering dibuat oleh seseorang

a. Janji kepada keluarga, (anak dan  istri)

b. Janji kepada bawahan atau orang yang levelnya lebih rendah dari dirinya dalam suatu unit pekerjaan, dsb.

c. Janji kepada teman sejawat/sebaya

d. Janji kepada rekanan bisinis

e. Janji kepada orang-orang tertentu sesuai profesi atau lingkungan masing-masing.

– Bersambung

(hdn)