Segala puji dan syukur hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga untuk Rasul Allah, keluarganya dan para shahabatnya dan orang yang selalu setia kepadanya sampai hari kiamat.
Wirid hatiDoa ini disusun dan dibagi dalam empat bagian, yakni:
Bagian Pertama:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini …. “
Pertama: Shifatul Qulub: telah berkumpul atas dasar kecintaan pada-Mu, bertemu atas dasar ketaatan pada-Mu Bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu Berjanji setia untuk membela syariat-Mu.
Kedua: Tarbiyatul Qulub: maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalan-jalannya.
Ketiga: Zadul Qulub (bekal): Dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu
(Ustadzah mencontohkan imannya Umar bin Khaththab ra.)
Keempat: Amal Qulub: Hidupkanlah ia dengan pengenalan pada-Mu. Dan matikanlah ia dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung penolong.
Mengapa (harus dengan) pembagian ini?
Dengan merenungkan apa yang Imam Hasan al-Banna jadikan wirid, banyak hati bertemu karenanya setiap sore setelah selesai dibacakan ayat yang mulia ini:
“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. (QS. Ali Imran: 26-27)
Dari ayat tersebut, menjadi jelas bahwa tampilan dunia seperti kekuasaan, kedudukan, harta dan kemulyaan hanyalah berada di tangan Allah Ta’ala, kekuasaan-Nya, dan dominasi-Nya. Dan disela-sela perenungan tentang kekuasaan, sifat, asma, dan segala nikmat-Nya, hakekat itu menjadi terang, dan menjadi pastilah makna rabbani dari makna ayat yang tersirat. Maka perkara yang sesungguhnya adalah perkara hati yang menghadap Tuhannya dan meninggi di tempat-tempat pendakian (ke langit) sehingga mencapai kedekatan (dengan-Nya) lalu menjadi istimewa dengan penuh keramahan, suka cita, kesenangan dan kegembiraan. Dan itulah ujung dari penciptaannya dan maksud keberadaannya.
Dan pada saat permulaan maghrib yang menjadi awal datangnya malam, hati melihatnya lalu bergembira dan bahagia karena malam itu adalah bertemunya hati dengan Rabb-nya, dengan kekasihnya, sehingga di malam hari dimana semua manusia tertidur, alam menjadi hening, dan berhentilah semua aktifitas, Allah turun ke langit dunia untuk bertemu dengan hati yang terjaga dan yang memiliki penglihatan, karena itulah maka yang pertama adalah doa ini:
“Ya Allah, sesungguhnya ini adalah kedatangan malam-Mu, Dan terlepasnya siang-Mu, Serta suara-suara yang menyeru kepada-Mu, Maka ampunilah kami”
Dengan persiapan hati seperti ini, Imam al Banna hendak menularkan kepada kita tentang kondisi beliau saat bersama Rabb-nya dan rasa bahagia dan gembira hati beliau. Tidaklah doa-doa seperti ini dipilih begitu saja secara acak yang ditulis oleh pena seorang penulis, atau dipikirkan oleh pengarang, dan saya yakin bahwa sesungguhnya Imam Al Banna menginginkan dari doa ini agar kiranya kesinambungan dan rutinitas berdoa kepada Allah Ta’ala selalu dihubungkan dengan hati dan aktififitasnya. Maka beliau mengawali wirid hati dengan:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini …. “
1. Ya Allah !
Apakah Anda ingin hidup di bumi sedangkan Anda berada di surga? Ini adalah apa yang pernah ditanyakan oleh ulama’ salaf kepada para pengikutnya lalu mereka semua menjawab: Ya, maka ia menyampaikan hadits Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam : “Apabila kalian melewati taman-taman surga maka bersenanglah. Para shahabat bertanya; “Apa yang dimaksud dengan taman-taman surga itu? Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam berkata: “halaqah dzikir”…
2 – “Sesungguhnya Engkau mengetahui (bahwa hati ini)”:
Termasuk keindahan berdoa di hadapan Allah Tuhan semesta alam adalah bahwa Anda memohon kepada-Nya dan Anda telah menunaikan (kewajiban) yang dibebankan kepada Anda, dan juga Anda mengedepankan amalan Anda dihadapan doa Anda, serta Anda berdoa kepada-Nya dalam keadaan yakin akan dikabulkannya, maka Imam al Banna hendak mendahulukan kesungguhan hati di hadapan Rabb-nya, dan segala sifat yang bisa mengkondisikannya dapat dipilih Allah dan dapat diasuh di bawah pengawasan-Nya. Maka beliau berkata;
“Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati ini telah…”
Dan sebagaimana kebiasaan Imam al Banna saat memanggil para ikhwan yang terus bekerja dengan (panggilan) “ikhwan yang jujur”, maka beliau memberikan arahan kepada mereka dengan risalah-risalah khusus tentang al fahmu, takwin, dan amal. Hal itu bukan berarti bahwa wirid hati layak bagi manusia tertentu dan tidak layak bagi yang lainnya atau sebuah penghalang bagi kelompok tertentu, tetapi masalah ini adalah masalah kompetisi dalam kebaikan dan saling bergegas dalam mewujudkan sifat-sifat tersebut. Karena, Islam membuka jalan para penempuh jalan menuju Rabb mereka. (“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”) (QS. Al Muthaffifin: 86)
Dan ketika masalah ini berkaitan khusus dengan hati, maka yang lebih utama bagi para penempuh jalan adalah mempercepat langkah, maka alangkah indahnya bersiap-siaga dan bersungguh-sungguh untuk sampai kepada Tuhan semesta alam, dan tidaklah orang-orang yang saleh dan jujur bersenandung kecuali pada sekitar makna ini?!
Pertama: Sifat-sifat hati ini:
1 – “Bertemu atas dasar cinta kepada-Mu”:
Ini adalah pertemuan yang tidak mengenal kata henti atau rintangan, karena ia adalah pertemuan yang tersambung, terus-menerus dan berkelanjutan, yang berdiri di atas cinta Allah Ta’ala, Hal itu karena cinta adalah status tertinggi dari posisi para penempuh jalan menuju Allah yang mana dapat terwujud nilai ubudiyah murni hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Pada tataran kedudukan ini ada pertemuan yang lebih nikmat dan menyenangkan yang dapat membuat para abid (ahli ibadah) merasa nyaman dengan semilir anginnya yang sepoi-spoi, karena ia adalah makanan hati, penglipur lara, hidup yang hakiki, cahaya, obat, bahkan kelezatan yang sempurna.
2- “Dan bertemu di atas dasar ketaatan kepada-Mu”
Ahli taat -bahkan katakanlah ahli ibadah- yang mana ibadah itu adalah ujung dari yang mereka kehendaki, tidaklah mereka tumbuh kecuali memohon Allah agar menolong dan memberi taufik kepada mereka untuk taat.
Dan inilah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah tercinta -salallahu alaihi wasallam- kepada orang yang dicintainya Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu anhu- maka beliau berkata: “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku sungguh mencintaimu, maka janganlah kamu lupa untuk mengucapkan setiap selesai shalat: “Ya Allah, tolonglah aku untuk bisa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada-Mu dengan baik”.
3- “Dan berpadu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu”:
Yang dimaksud dakwah yang dikaitkan oleh Imam al Banna kepada Allah Ta’ala adalah risalah Islam. Sedangkan para pelaku risalah adalah hati yang telah bersatu dalam memahami dan menerima risalah dan persepsi mereka tentang risalah, kemudian bersatu dalam beramal, merealisasikan, dan mengejawantahkan risalah itu sebagaimana Allah telah turunkan.
4- Berjanji setia untuk membela syariat-Mu.
Sesungguhnya hati yang telah dipersiapkan dari hadapan Rabbnya untuk menempati kedudukan dekat dari-Nya ini, maka pertemuannya adalah diatas cinta dan ketaatan kepada-Nya, sehingga menjadi barisan yang kokoh lalu berpadu di atas dasar dakwah kepada-Nya dalam pemahaman, amal dan menyebarkannya. Allah telah mempersiapkannya untuk peran para Nabi dan amalan mereka adalah amalan para Nabi, mereka adalah para reformis saat kondisi keterasingan, dan mereka adalah ahli kebenaran di depan setiap kebatilan.
Kedua: Tarbiyatul Qulub:
Dari sinilah beliau memulai doanya kepada Allah supaya Allah menjadikan hati ini dalam produk rabbani, tarbiyah ilahiah, dan ia berjalan pada jalan para Nabi, melakukan tugas mereka, dan memperkokoh risalah Allah di bumi-Nya.
1- ‘Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya’
Dalam pemahaman Imam Al Banna yang mana beliau berdoa dengan doa ini, ia adalah merupakan salah satu dari rukun bai’at yang sepuluh: “ukhuwah” yang beliau jelaskan dengan perkataan beliau:
Hendaknya hati dan ruh ini terikat dengan ikatan aqidah, karena aqidah adalah ikatan paling kuat dan paling tinggi. Sedangkan ukhuwah adalah saudara iman, sementara itu perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan yang paling kecil adalah persatuan, dan tidak ada persatuan tanpa cinta. Cinta yang paling bawah adalah selamatnya dada, dan yang paling tinggi adalah martabat itsar.
(“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”). (QS. Al Hasyr: 9)
2 – “Abadikanlah kasih sayangnya”:
Yang dalam Islam merupakan rejeki dari (Allah) Yang maha Rahman. Apabila Allah mengkaruniai Anda rasa kasih saying kepada seorang akh, maka pelihara dan jagalah ia:
Jika berpaling darimu, temuilah.
Jika menjauhimu, dekatilah.
Jika kikir padamu, berdermalah.
Sampai ia menjadi salah satu pendukungmu
3- “Tunjukkanlah jalan-jalannya”:
Allah –Subhanahu wa ta’ala- berfirman:
”Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keredhaan Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”.(QS. Al Ankabut: 69)
Maka apakah dengan memperkuat ikatan dan mengabadikan kasih sayang, hati akan terisi kesempurnaan tarbiyah dan keagungan produk rabbani? Mau tidak mau, hati ini harus diliputi pagar yang kuat dan kokoh yang mampu menanggung kontuinitas dan tsabat bagi hati. Dan tidak ada jalan untuk menjelaskan dan untuk memberi petunjuk kecuali dari sisi para Rasul.
Ketiga: Zadul Qulub (Bekal hati):
Secara umum:
1. Dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup.
2- Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman
3- Dan keindahan tawakal kepada-Mu
Secara rinci:
1- “Dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup”.
Sungguhnya hati ini memerlukan bekal untuk meneruskan perjalanannya kepada Tuhannya. Sedangkan hati ini sangat memerlukan penjagaan bekal ini. Bekal yang pertama adalah saat Allah memberikan cahaya-Nya di hati ini sehingga hati ini bangun dan tidak tidur, selalu bersinar dan tidak lalai, kemudian Allah memberikan sebuah cahaya dari sisi-Nya, maka hati tersebut diberikan bashirah.
2- “Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman”:
Salah satu hal yang mendasari perkumpulan orang salaf adalah bahwa iman itu bertambah karena taat, dan berkurang karena maksiat. Dan bahwa sesungguhnya maksiat itu memakan iman dan memiliki pengaruh yang menyakitkan bagi pemiliknya. Begitu pula, iman juga bertambah di hati dan terlihat bekas-bekasnya pada badan dan anggota tubuh. Allah berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An Nahl: 97).
Allah juga berfirman:
“Katakanlah : “Hai hamba-hama-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu, orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan”. (QS. Az Zumar: 10)
3- Dan keindahan tawakal kepada-Mu:
Allah Ta’ala berfirman tentang para Nabi-Nya:
“Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri”. (QS. Ibrahim: 12)
Keempat: Amalul Qulub (Pekerjaan hati):
1- Hidupkanlah ia dengan bermakrifat pada-Mu.
Sesungguhnya hidup itu tidak akan ada kecuali dengan bermakrifat kepada Allah Azza wa Jalla:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami beri berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?”. (QS. Al An’am: 122).
Dan Allah juga berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. (QS. An Nahl: 97).
Hidup dengan bermakrifat kepada Allah artinya adalah merealisasikan semua makna tersebut sehingga seorang akh mendapatkan kehidupan bahagia dan tenang.
Kehidupan tersebut adalah kelezatan yang pernah dinikmati oleh para shahabat –ridhwanullahi alaihim- dahulu: Adakalanya berupa kemenangan dan kebahagiaan, adakalanya berupa shahadah (mati syahid) dan kebahagiaan. Sebuah ungkapan yang ringkas tetapi cukup untuk menyimpulkan kehidupan seorang mukmin dan aktifitas hatinya dalam hidupnya.
2- Dan matikanlah ia dalam keadaan syahid di jalan-Mu..
Apakah kematian itu sebuah pungkasan atau sebuah fase?…Sesungguhnya terlepasnya ruh dari kungkungan badan adalah merupakan kehidupan ruh itu sendiri. Karena di belakang itu ada ruh, kenyamanan, dan ketenangan.
Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung penolong.
Sebagian para arifin billah berkata: “Hendaknya bergegasmu untuk keluar dari dunia ini sama seperti ketergesaanmu saat keluar dari penjara yang sempit untuk menuju orang-orang yang kau cintai”.
Allah Ta’ala berfirman:
“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezki serta surga kenikmatan”. (QS. Al Waqiah: 88-89)
Inilah yang dimaksud oleh Imam al Banna dan telah ada sifa-sifat hati dengan aktifitas seperti ini.
Wirid doa (istighfar 100 kali, tahlil 100 kali, dan shalawat kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam 100 kali)
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak lebih dari tujuh puluh kali”. (HR. Bukhari)
Setelah istighfar kita membaca: La ilaha illallah sebanyak 100 kali. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh aku membaca “Subhanallah, wal hamdulillah, wa la ilaha ilallah wallahu akbar” lebih aku cintai dari pada terbitnya matahari. (HR. Muslim)
Setelah kita membaca La ilaha illallah sebanyak 100 kali, kita membaca shalawat kepada Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam 100 kali dengan ucapan:” Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad (Ya Allah, berilah rahmat dan keselamat kepada junjungan kami Muhammad)”.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang bershalawat kepadaku maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali”. (HR. Muslim).
Itulah wirid-wirid yang kita sebagai para da’i wajib membekali diri kita dengan wirid-wirid tersebut sehingga kita mampu mendakwahi manusia dan berjalan bersama mereka menuju ridha Allah dan surga-Nya.
Semoga Allah memberikan balasan kepada Anda semua atas perhatian Anda yang serius.
Ya Allah berilah shalawat kepada Nabi kami Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya semuanya.